
Pelangi » Pernik | Ahad, 29 Mei 2011 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
"Tapi kan tidak terlihat," katamu membela diri.
"Bukan masalah terlihat atau tidak terlihat, tapi ini masalah privasi! Harusnya kamu gak membiarkan terbuka pintunya," kataku tegang menahan sesak dan marah yang menggemuruh di dalam dada.
Dadaku benar-benar sesak.
"Iya, maaf," katamu enteng.
Aku diam. Mengalihkan perhatianku ke keyboard. Tanganku memencet sembarangan dan tak beraturan. Aku sedang tidak bisa memaafkanmu kalau begini yang dirasa.
Hanya masalah sepele, mungkin. Tapi tidak bagiku. Berawal dari seorang lelaki entah siapa yang berkunjung ke tempat kost. Aku siang itu yang sedang rehat dengan posisi tiduran di ruang depan, kaget bukan main, karena pintu depan yang kukira 'aman' terbuka. Aku sangat terlambat menyadarinya, karena sudah lumayan lama kudengar Riri bercakap dengan teman lelakinya itu.
"Yang penting kan tidak terlihat," katamu lagi. Rupanya belum mengerti.
Kuhentikan aksi tak jelas tanganku. Kau benar-benar membuatku semakin marah. Dengan gerakan cepat kudekati engkau.
"Tatap mataku!" kataku seperti kesetanan. Allah, tolong kendalikan aku.
"Oke, gue salah, gue minta maaf. Sudah, tidak usah dibesar-besarkan!" katamu diplomatis.
Sayup, kudengar Cahaya Hati-nya Opick mengalun dari Winamp laptopku yang masih menyala. "Allah itu dekat, penuh kasih sayang, tak kan pernah engkau biarkan hambaMu menangis, karena kemurahanMu, karena kasih sayangMu."
"Allah itu dekat, penuh kasih sayang," begitu yang terekam jelas di otakku. Kulepaskan tatapan itu. Menunduk dalam dan menghela nafas. Ini, seperti sedang bermain sinetron saja.
"Ri..." kataku dengan volume lebih rendah dari sebelumnya.
"Kau pernah melihatku ke luar tanpa kaos kaki meski hanya minjemin buku ke tetangga? Tidak kan? Padahal itu hanya kaki yang ditutup, kaki yang tak kan menjadi perhatian siapapun. Begitulah aku menjaga diriku. Bukan masalah terlihat atau tidak terlihat. Tapi ini masalah aturan main yang jelas. Aku senang bisa belajar cara dandan yang benar darimu, tapi apakah engkau pernah melihatku berdandan ria kalau mau pergi ke mana gitu? Yang ingin kukatakan padamu adalah, bahwa kita punya cara pandang dan cara menjalani hidup yang berbeda."
"Aku memang belum bisa sepertimu, terlalu berat," katamu menyela.
"Oke, bagus itu, karena kamu sudah menyadari satu hal. Meski bukan berarti aku lebih baik darimu. Yang seharusnya menjadi pertanyaan, kenapa kita bisa berbeda, padahal kita sama-sama muslimah? Dari cara makai jilbab sampai cara bergaul kita berbeda."
"Jangan hakimi aku!"
"Hey..." kupegang pundakmu.
"Hidup ini hanya berisi 'ya' dan 'tidak', 'benar' dan 'salah', 'baik' dan 'buruk', 'taat' dan 'ingkar' hingga pada akhirnya nanti 'surga' dan 'neraka'. Kita pasti pernah, sedang, dan akan berada di salah satunya."
"Sudah, nggak usah dibahas. Malas aku bahas yang gituan," katamu. Berdiri dan mengambil air minum. Kukejar engkau.
"Oke, baik, fine. Mari kita saling mengerti. Aku hanya minta tolong satu hal padamu."
"Apa?"
"Tolong bantu aku menjaga diri," kataku jelas. Jelas sejelas-jelasnya. Engkau sedikit tersentak.
"Maksudmu?"
"Maksudku, aku membutuhkanmu untuk membantu menjaga apa-apa yang selama ini kujaga. Karena, aku memang tak bisa sendiri. Seperti contoh kasus tadi siang, membiarkan pintu terbuka sementara aku sedang dalam posisi tidur, itu sedang tidak menjaga diriku."
"Aku sudah minta maaf."
"Sekarang bukan masalah maaf, tapi aku ingin kamu mengerti. Pun, demikian. Kamu boleh menuntutku untuk ngerti kamu."
"Oke, apa lagi yang perlu kujaga?!"
"Ri... " kataku terputus. Kenapa akhir pembicaran jadi begini? Bukan pembicaraan seperti ini yang kuinginkan. Aku, masih belum bisa menembus hatimu.
"Terima kasih sudah mau menjagaku. Semoga aku bisa membalasnya. Maaf ya, sudah merepotkanmu"
"Jangan lebay gitu deh," katamu (lagi-lagi) enteng.
***
/rf_Alangkah indahnya hidup ini andai dapat kutatap wajahmu, duhai Rasullullah. Biar kesabaran lakumu serta kegigihan dakwahmu tetap menginspirasi, meski ditolak dan diolok.
KotaSantri.com © 2002-2026