Pelangi » Pernik | Ahad, 17 April 2011 pukul 10:30 WIB

Bukan Masalah Cinta

Penulis : Rifatul Farida

"Lalu, apa hubungannya dengan saya? Yang ustadz kan dia? Yang hafidz kan dia?" kata wanita itu mulai kesal.

"Hubungannya adalah, anti dosa kalau sampai menolaknya!"

"Lha, itu namanya pemaksaan. Afwan, saya tetap tidak bisa!"

"Anti tidak takut timbul fitnah setelah ini?"

Wanita itu kaget, "Afwan, mungkin saya bisa memaksa diri saya untuk melakukan banyak kebaikan, tapi sepertinya tidak untuk hal yang satu ini."

***

Di sebuah kamar dengan jendela menghadap ke timur. Seorang wanita termangu dengan dirinya sendiri. Perasaannya kacau. Ditatapnya lekang seluruh bagian diri pada sosok yang berada di dalam benda bening padat di depannya.

"Kaukah aku?" katanya.

Ia menghela nafas dalam, bosan. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.

"Semuanya boleh tidak mengerti tentang jiwaku, tapi Engkau pasti yang paling mengerti," bisiknya menatap langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca.

Ia meliarkan pengembaraan angannya.

“Mau tahu rahasianya agar bisa mendapatkan suami hafidz?” kata seorang ummahat di depannya dengan senyum bangga. Semua akhwat di ruangan itu riuh antusias, kecuali dirinya.

“Wanita yang taat pada suaminya yang shalih itu sudah jalan menuju syurga,” kata seorang akhwat dalam sebuah diskusi.

“Jika ada seseorang yang bagus agamanya, kemudian datang kepadamu, maka tak ada alasan bagi seorang muslimah untuk tidak menerimanya,” sebentuk kalimat dari seorang guru panutan terngiang di telinganya.

Tiba-tiba ia merasa muak dengan semuanya; muak dengan para akhwat pemburu ikhwan shalih, muak dengan para ikhwan pengincar akhwat shalihah, muak dengan hitungan-hitungan sekufu, muak dengan semua hal yang katanya berlabel kebaikan dan ridhaNya, namun entah kenapa, pada kenyataan yang dilihatnya, ia lebih merasakan sebagai keegoisan berbentuk lain.

Apakah pemaknaannya hanya sebatas itu? Apakah ini hanya berlaku antara surga dan neraka? Baik dan buruk? Cocok dan tidak cocok?

Sungguh, pemaknaan penghambaan yang dangkal menurutnya.

Meski mungkin ia tak sekaliber Khadijah, Siti Aisyah, Maryam, dan wanita-wanita dengan penghambaan terhebat lainnya. Tapi, satu hal yang ia tahu, bahwa ialah yang paling bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri di hadapanNya.

Hanya saja kemudian, ia tak pernah mampu menjabarkan secara sempurna, tentang hal yang selalu menyentuh sisi ambivalensi jiwanya.

KotaSantri.com © 2002-2026