Pelangi » Pernik | Ahad, 6 Maret 2011 pukul 12:00 WIB

Sabar... Sabar...

Penulis : Seriyawati

Kupatut diri di depan cermin. Jilbab biru langit jadi pilihan. Bros perak berbentuk pita kusematkan, membuat jilbab yang kupakai kelihatan rapi dan takkan mudah disibakkan angin. Berangkat dari rumah, hati ini masih dag dig dug. Tapi sisi hati lainnya berusaha menenteramkan hati yang resah dan khawatir. Hari ini kuberanikan diri pergi berbelanja dengan memakai jilbab.

"Tenang saja, kuatkanlah hatimu, bukankah semuanya karena Allah?!" suara hati yang satu makin menonjolkan dorongannya.

"Tapi aku ragu, dan sedikit takut kalau nantinya tak berjalan lancar," bisik hati yang lain.

"Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Sampai akhirnya napasmu tinggal satu-satu? Sampai malaikat maut menarik rohmu hingga ke leher?" berondong hati yang satu.

"Ayolah... Raihlah ridhaNya, berjalanlah di jalanNya, kejarlah dan iringilah langkah sahabat-sahabatmu yang telah lebih dulu mendapat cahayaNya!" suara hati itu makin memantapkan diriku.

"Bismillaahirrahmaanirrahiim...," ucapku dalam hati. Kumantapkan hati, kuteguhkan diri, kulangkahkan kaki.

Jilbab biruku sedikit berkibar tertiup angin sore di awal musim panas. Kota Nagoya hari ini sangat panas. Kumasuki supermarket itu dengan sedikit kikuk. Tidak seperti biasanya, kali ini ada perasaan lain di hatiku. Iya, kali ini kumasuki supermarket ini dengan penampilan baruku.

"Ah... Masih agak sepi, nih," batinku senang.

"Sebaiknya aku cepat-cepat saja ah, daripada nanti antri di kasir," putusku kemudian.

Walaupun aku berbelanja barang yang sudah kutahu di mana letaknya, tak urung itu pun memerlukan waktu yang tidak sebentar. Sehingga beberapa pasang mata melihatku dengan pandangan aneh. Mungkin juga ada perasaan geli. Aneh karena pakaianku itu tidak lazim di negeri Sakura, juga menggelikan karena dipakai saat musim panas.

Tetapi...

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-Ankabuut [29] : 2).

Yang bagi orang Jepang terutama para perempuan adalah saatnya untuk buka-bukaan.

Selesai sudah kudapatkan barang belanjaan yang kuperlukan. Aku bergegas menuju kasir yang agak lowong.

"Yap... Di kasir itu tinggal seorang pembeli yang dilayani. Aku antri di situ aja, ah," pikirku sambil berjalan ke kasir itu.

"Ah... Selamat siang," sapa laki-laki separuh baya yang menjaga kasir.

Wanita separuh baya yang disapa segera menghampiri dan meletakkan belanjaannya di meja kasir. Padahal aku akan lebih dulu sampai di kasir itu. Tetapi penjaga itu dengan sengaja memanggil pembeli lain. Aku hanya melihat sekilas lirikan si penjaga kasir itu. Aku segera berpindah ke kasir lain, yang sudah kosong. Khawatir ditolak lagi, aku berkata kepada perempuan penjaga kasir itu, "Ii desu ka? (Bolehkah?)"

***

Sepulang dari supermarket itu, hatiku diliputi rasa jengkel dan kesal sekaligus takut. Takut kalau belanja di situ lagi akan ditolak seperti tadi. Aku khawatir kejadian tadi akan berulang dan bukan hanya di supermarket itu saja. Tapi lebih takut lagi kalau kemantapan hatiku untuk terus memakai hijab menjadi luntur. Aku harus bersabar. Sabar... Sabar...

"Ah... Tidak! Jangan sampai!" tegasku dalam hati. Aku dihantui berbagai pikiran buruk dan bisikan-bisikan yang menyuruhku mengurungkan niat memakai jilbab seterusnya. Jangan sampai hanya gara-gara kejadian tak mengenakkan tadi menyurutkan niatku. Aku tak mau lagi bongkar pasang jilbab. Pergi ke pengajian memakai jilbab, pergi kerja bongkar lagi.

"Tidak. Tidak lagi! Jangan perturutkan rasa malu. Malu karena perbedaan pakaian. Takkan kuturuti rasa takut. Jangan kalah sama diri sendiri!" bisikku kuat. Aku tak mau masuk golongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Aku tak mau pahala-pahalaku terhapuskan karenanya. Dan yang pasti, aku tak mau menjadi penghuni neraka.

Aku harusnya malu kepada Yang Mahatahu.
Aku harusnya takut kepada Yang Mahakuasa.
Aku harusnya khawatir ditolak olehNYA.

Ya, Allah...
Kuatkan hamba tuk mencapai ridhaMu.
Jadikan hamba insan yang lurus.
Tunjukkan hamba jalan yang satu.
Jalan mencapai surga Firdaus.

KotaSantri.com © 2002-2026