
Pelangi » Pernik | Ahad, 19 September 2010 pukul 17:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Ada di hadapan, seorang lelaki yang ia kira akan menjadi belahan jiwa, tempat labuhan semua rasa yang pernah ada, menunduk diam tanpa ekspresi. Masjid Agung di sebuah kota kecil malam itu menjadi saksi, atas keputusan besar yang disepakati bersama. Saling mengikhlaskan dalam gemuruh rasa yang tak dapat dideskripsikan.
Mereka telah saling mengenal semenjak usia belia. Berpisah selepas SMU, dan Allah mentakdirkan kembali bertemu ketika sama-sama telah berusia matang dan siap menciptakan biduk kecil peletak batu pertama peradaban manusia. Namun, toh Allah jualah penentu segala nasib manusia.
Di sampingnya pada saat yang sama, seorang teman lama yang pernah dekat, duduk lusuh. Berbalur isak tangis, lirih, namun cukup hebat mengiris-iris ulu hati. Sang teman, sedang butuh diselamatkan.
“Ah, sahabatku, seandainya saja engkau bisa lebih berhati-hati, mungkin ini takkan pernah terjadi. Meski agak centil, tapi kukenal engkau sabagai wanita yang punya pikiran panjang ke depan. Apalagi sudah sedewasa ini, bagaimana mungkin engkau melakukan hal yang rajam adalah hukumannya? Dan ketika lelaki tak bertanggung jawab itu entah di mana sekarang berada, ada benih di rahimmu yang terus tumbuh,” bisik batinnya.
“Sudahlah, tak usah berandai-andai. Karena toh pada kenyataannya engkau kini diambang kehancuran dan butuh diselamatkan. Dan kami, sepertinya yang telah ditakdirkanNya harus menyelamatkanmu,” lanjut hatinya menimpali.
“Apakah kita tetap bisa berdua membantu teman kita ini, ukhti?” kata lelaki yang sedari tadi menunduk tanpa ekspresi.
“Maksudnya?”
“Ana pikir, ana tetap butuh anti,” sang lelaki tak melanjutkan kata-katanya, namun ia mengerti apa maksudnya.
“Akhi, ana menerima hukum itu. Karena memang semua yang telah ditentukan syari’at sudah barang tentu baik untuk dilakukan. Pun, ana tak kan keberatan berbagi dengan sahabat sendiri, jika itu dalam kebaikan dan justru saling menguatkan. Tak jadi masalah siapa yang menjadi yang pertama dan siapa yang menjadi yang kedua. Hanya saja, hal ini masih terlalu berat untuk keluarga ana. Afwan, ana punya kewajiban untuk tetap birul walidain,” ucapnya panjang lebar namun penuh kehati-hatian.
"Tapi, disebut kewajiban juga memberi penjelasan kepada keluarga. Kita masih bisa berikhtiar," jawab sang lelaki tak mau kalah.
"Pernah diupayakan dan hingga sekarang pun tetap menjadi hal yang menjadi bagian dari dakwah untuk keluarga. Tapi tidak untuk saat ini, akhi, terlebih Ibu sedang sakit. Sekali lagi afwan, saat ini, hal seperti itu berat untuk ana lakukan."
"Tapi ini berat juga bagi ana. Ana khawatir terlalu berani mengambil amanah ini. Sedang ana pun masih dalam proses belajar."
"Kita semua sedang berproses belajar. Istighfar, akhi. Justru ana khawatir itu hanya bisikan syetan. Antum seorang kader dakwah yang terbiasa mengurusi ummat, mengerti banyak hukum syari'at, dan selalu bergaul dengan orang-orang shaleh. Ana yakin, antum mampu menjadi imam yang baik untuk seorang hawa. Apakah sebagai seorang aktivis, antum tak tertantang untuk meng-upgrade dia menjadi wanita perkasa penuh keagungan layaknya Khadijah?" wanita itu mengurai penjelasan.
"Bukan matahari jika tak menyinari," lanjutnya.
“Lalu, bagaimana dengan anti?” seseorang di samping sang lelaki yang sedari tadi turut menemani angkat bicara.
“Bukankah menikah itu urusan akhirat, ukhti? Bukan sikap seorang muslim yang tak mendahulukan urusan akhiratnya,” katanya meyakinkan.
“Tapi menjadi jalan kebaikan untuk orang lain juga urusan akhirat bukan? Apalagi seseorang yang nasibnya di ujung tanduk. Semuanya adalah baik, tapi tidak semuanya mendesak. Maka, ana dahulukan yang mendesak.”
Sesaat ruangan itu hening.
"Salahkah jika ana ingin tetap mempertahankan anti?" kata sang lelaki memecah keheningan.
Wanita itu diam. Ia mulai berpikir, ada perasaan lain yang terlibat. Sungguh menjadi hal yang paling tidak mudah kalau urusannya menjaga hati agar tak ada yang tersakiti. Karena jejaknya pasti akan lama membekas, itupun belum tentu bisa hilang.
“Demi Allah, seorang muslim harus menjadikan semua sikap, gerak, dan keputusan hidup adalah karenaNya dan untukNya. Maka, selayaknya kita berupaya melakukan itu,” katanya menutup semua pembahasan.
Maka di tempat penuh keberkahan itu, ia melepas semua keinginan pribadi, untuk Allah dan RasulNya. Ia singkirkan semua angan yang belakangan sering menyambangi, akan indahnya sebuah tempat persinggahan meski hanya sepetak, namun telah begitu apik direncanakan, akan dipenuhi dengan aroma kasih sayang dan ketaatan.
Ia lepas, ia tinggalkan episode yang baru saja menawarkan mimpi indah dan bersiap kembali melanjutkan hidup.
“Bukannya aku harus kuat menghadapi ujian ini, tapi karena aku kuat, maka aku diuji dengan hal ini,” kata hatinya untuk dirinya sendiri.
“Dan lihatlah Allah, jilbab merah muda ini akan tetap berwajah ceria, seceria kerlip bintang di langitMu malam ini,” katanya kembali di pelataran masjid yang mulai sepi. Namun tidak untuk di depan masjid yang langsung alun-alun dan hanya dibatasi oleh satu ruas jalan, penuh dengan pedagang kaki lima.
Ia pikir sepertinya semangkuk bakso akan terasa nikmat di udara dingin. Tapi bukan itu sebetulnya alasan sebenarnya, ia merasa perlu menghangatkan hatinya yang mulai dingin.
KotaSantri.com © 2002-2026