
Pelangi » Pernik | Ahad, 17 Januari 2010 pukul 18:44 WIB
Penulis : Nurul_Adhim
Pelan, kubuka mataku. Kepalaku terasa berat, setengah sadar kupandangi seorang gadis tengah terlelap di kursi yang terletak tepat di sebelah tempatku berbaring. Kuputar otakku, berusaha mengingat apa yang telah terjadi hingga sekarang aku terbaring lemah di tempat ini, ruangan yang sangat kubenci karena baunya yang khas. Bau obat, Rumah Sakit.
Namun aku sama sekali tak dapat mengingatnya. Memori dalam otak busukku ini hanya mampu merekam kejadian terakhir saat aku berpesta miras dan shabu bersama segerombolan manusia berhati iblis sepertiku. Semua terasa ringan, namun sejenak kemudian tiba-tiba saja nafasku memburu, seolah saat itulah saat terakhir hidupku, lalu semuanya gelap.
Lalu bagaimana ceritanya aku bisa berada di sini sekarang, ditambah pula untuk apa gadis ini berada di sini. Kucoba menebak-nebak apa yang telah terjadi, dan nihil. Aku benar-benar tak habis fikir.
***
Semula, aku hanyalah makhluk yang benar-benar buta. Bagiku, masa depan hanyalah sebuah kesemuan yang tak perlu kufikirkan hari ini. Toh aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi untuk apa aku repot-repot memikirkan masa depan. Dunia gelap, hitam, dan kotor kehidupan di kota-kota besar seperti di Surabaya bukanlah lagi menjadi hal yang tabu bagiku. Semua aturan hanyalah tipuan. Agama hanyalah topeng, membuatku muak dengan orang-orang yang menganggap diri mereka suci. Padahal tak satupun dari mereka kulihat peduli dengan manusia kotor sepertiku.
Orang-orang suci itu hanya peduli dengan pendalaman agama. Sibuk mencari syurga seolah-olah mereka tak mungkin tersentuh api neraka. Lalu mereka pastilah mencibir dan merasa jijik pada orang-orang sepertiku yang dipenuhi kepersetanan urusan mereka. Bahkan, aku tak akan pernah perduli, jika salah satu dari mereka yang merasa sudah suci itu menceramahiku dan mencekokiku dengan dali-dalil.
Percuma, pastilah jika bisa kuandaikan, semuanya kan kumuntahkan kembali ke wajah-wajah mereka. Tak terhingga senangnya hatiku, puas melihat orang-orang sok suci itu wajahnya tiba-tiba saja berubah merah menahan marah atas perlakuanku. Dan sekali lagi aku telah menang.
Tapi tidak untuk hari ini. Aku tlah kalah telak. Highscore yang selam ini telah kupegang atas pertarunganku dengan orang-orang sok suci itu hancur, merosot, dan jatuh. Sialan!!! Batinku saat itu.
Wajahnya yang innocent dan manja, membuat gadis itu terlihat seperti anak-anak. Namun tak jarang dia mempermainkan ekspresi wajahnya yang terkadang terlihat begitu dewasa dan bijaksana. Sosok seorang ibu yang pastilah membuat anak-anaknya takkan tega membuat luka di hatinya. Sungguh, menurutku itu adalah sebuah perpaduan yang aneh. Belum lagi jika dia membuat kesimpulan-kesimpulan atas diriku yang membuatku marah, namun di satu sisi membuatku tak tega. Saat aku melihat binar matanya, aku merasakan getaran yang amat menyesakkan. Karena sinar itu, adalah sinar yang dimiliki Rendi, adikku yang telah tiada. Sinar mata yang menyimpan sesuatu tanpa ada satupun orang mengetahuinya.
Fatiya. Adalah nama gadis itu. Takdirlah yang membawaku kepadanya. Kami dipertemukan di tugas kelompok mata kuliah yang kuambil semester ini. Meski kami berbeda jurusan dan pola fikir, namun Fatiya masih tetap dapat menyeimbangkan hubungan dengan teman-teman satu tim. Sejujurnya, aku kagum pada kecerdasannya dalam bersikap. Dia memiliki keseimbangan emosional yang menjadikan orang-orang di sekitarnya merasa nyaman dengan keberadaannya meskipun dia adalah gadis yang biasa-biasa saja, dengan tampang pas-pasan bertubuh sedikit gemuk dan agak pendek.
Tadinya kufikir begitu tugas kami berakhir, aku jamin hubungan kami pun akan segera berakhir. Namun ternnyata aku salah, aku harus memainkan kembali peranku dalam skenario hidupku bersama Fatiya.
Gadis itu mulai sering mengirimiku pesan-pesan singkat yang berisikan dalil, hadits, atau bahkan syair-syair pendek berisikan nasehat. Dan yang terakhir, dia mengirimku sebuah pesan yang bertuliskan, “Laa Tahzan, Innallaha Ma’ana. Jangan Bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Barjanjilah untuk tetap membuat hatimu tersenyum, karena Allah lebih Mengetahui apa-apa yang terbaik untuk kita.”
Sial!!! Langsung saja aku menghapusnya.
***
“Aaaaaaaaarrgh….!!!!”
Kaget, kubuka mataku. Haaargh, kenapa mimpi itu datang lagi. Mimpi yang membuatku teringat kematian Rendi. Dia mati, semua karena aku. Seandainya saat itu aku tidak bertengkar dengannya. Seandainya saat itu aku tidak pergi, dan seandainya Rendi tidak mengejarku dengan motornya, tentu semua tak akan terjadi. Pasti Rendi tak akan mati. Andai saja saat itu aku saja yang diambilNya. Karena Rendi terlalu berharga, terlalu baik. Rendi yang tak pernah lelah mengajakku mengenal Tuhan. Rendi, adik lelakiku satu-satunya. Dan hal itulah yang membuatku benar-benar kehilangan pegangan.
Aku semakin menggila saat aku harus menghadapi kenyataan bahwa ibuku menikah lagi dengan seorang konglomerat yang tanpa sepengetahuannya telah membunuh ayah kandungku. Saat aku mencoba berbicara pada ibu, dia sudah tak mau lagi mendengar kata-kataku. Ya, semua karena aku telah dianggapnya sebagai pembual besar yang seringkali menipunya.
Sebenarnya aku tidak mau ambil pusing dengan wanita itu, karena untuk apa aku mengurusi urusan orang yang telah mentelantarkan aku dan adikku sejak kecil. Ya, Tuhan telah mengambil orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku. Lalu apa gunanya aku memikirkan jalan dan masa depan.
Aku bangun dari tempat tidurku. Kulihat buku-buku kuliahku yang berserakan. Kostku terlihat sangat berantakan, dengan lantai yang sudah berubah warna yang semula putih menjadi kecoklatan. Tapi entah mengapa meski kondisinya yang seperti itu, tetap saja membuatku nyaman. Sejenak kemudian kudengar pintu kostku diketuk.
Tok Tok Tok…
“Assalamu'alaikum…" suara seorang gadis, dan sepertinya aku cukup mengenal suara itu.
Dengan setengah malas, aku membuka pintu. Benar saja, di luar sana terlihat seorang gadis berjilbab yang kukenal. Fatiya, yang tengah menyunggingkan senyumnya saat melihatku. Aku langsung saja berpikir, untuk apa anak itu datang ke mari.
“Maaf, mungkin kau salah alamat,” sapaku ketus sambil mencoba menutup kembali pintu kamarku.
“Tunggu! Enggak kok, Fatiya emang lagi nyari Tama,” jawabnya masih dengan innocent.
“Ada perlu apa kau datang kemari?” tanyaku.
“Eum… Tama hari ini enggak ada agenda kan? Mau enggak nemenin Fatiya?” tanyanya.
Kupikir anak ini hanya bergurau.
“Kau ini gila apa? Untuk apa menemanimu? Memangnya aku ini baby sitter-mu?” jawabku masih ketus.
“Tolong, Tama. Kali ini saja.”
“Tidak, Aku mengantuk, aku mau tidur”
“Tama… Fatiya mohon. Sebentar aja kok.”
“Aku sudah bilang kalau aku tidak mau kan? Masih kurang jelas?” aku mulai kehilangan kesabaran, lantas kubanting pintuku. Aku lantas kembali ke tempat tidurku.
“Ya sudah kalau begitu. Tadinya Fatiya pengen ditemani Tama ke toko buku. Mungkin Tama lagi capek, ya sudah Tama istirahat saja, Fatiya pergi dulu. Wassalamu’alaikum,” pamitnya.
Kulangkahkan kaki ke arah jendela, kulihat gadis itu beranjak pergi setelah tadi sempat kulihat raut wajahnya dan matanya yang memerah.
***
Sorenya aku terbangun, sudah hampir maghrib. Saat aku berniat untuk keluar kost mencari makan, tiba-tiba saja aku melihat sebuah bungkusan tebal di depan pintu kamarku, ada tulisan di atasnya.
UNTUK TAMA
Kubuka bungkusan itu. Semuanya berisi buku-buku agama, psikologi, kumpulan cerpen, dan novel Islami. Dan, sebuah agenda bersampul putih bersih dengan ukiran kaligrafi basmalah di bagian tengah covernya. Elegan, dan indah.
Aku membuka halaman pertamanya, ada tulisan yang indah, apa mungkin ini tulisan si pemilik buku-buku ini.
Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Untuk Tama
Semoga Allah SWT senantiasa menjagamu dalam setiap langkah kakimu berpijak.
Kuberikan buku-buku ini, agar dapat menemani perjuanganmu untuk mengenalNya yang begitu menyayangi kita.
Maaf jika selama ini Fatiya banyak membuat Tama marah, mengganggu hari-hari Tama, atau bahkan mengganggu waktu istirahat Tama. Sejujurnya, Fatiya tidak ingin Tama merasa sendiri di dunia Ini.
Jangan bersedih Tama, percayalah bahwa Allah tidak akan menguji kita melebihi batas kemampuan kita sebagi hambaNya. Percayalah bahwa semua yang telah Ia berikan kepada kita adalah semata-mata demi kabaikan kita.
Salam Ukhuwwah
Fatiyatul Zahra
Semenjak kejadian hari itu, tak lagi kudengar kabar Fatiya, bak ditelan bumi, anak itu benar-benar telah menghilang. Begitu pun pesan-pesan singkat berisi nasehat, tak satupun ia kirimkan lagi kepadaku. Buku-buku yang dia berikan mulai berdebu di sudut kamar kostku pertanda tak pernah sekalipun kusentuh.
Seminggu, dua minggu, sebulan, hingga tiga bulan ini. Ya, kurasa Fatiya sudah mulai bosan menggangguku hingga ia benar-benar tak lagi pernah kudengar kabar beritanya. Namun, aneh, aku merasa begitu merindukannya. Kepolosan dari tingkahnya. Hingga tanpa terasa aku mulai mengingat kembali saat-saat dimana anak itu mengisi hari-hariku dengan senyumannya. Ada rasa yang begitu aneh menyelimuti hatiku kini, bahkan dia tak segan-segan menyambangiku dalam mimpi malamku. Seperti malam ini, saat kulihat Fatiya berada di antara orang-orang yang begitu kurindukan itu, Ayah dan Rendi, menggandeng tangan Fatiya dan tersenyum ke arahku.
Apa arti mimpi itu, aku benar-benar tak paham. Aku bingung tak tahu harus bertanya pada siapa. Haruskah aku mencari Fatiya yang telah menghilang untuk mengetahui ada apa gerangan. Hingga akhirnya pilihanku jatuh pada nafsu yang mengajakku kembali menenggak minuman keras dan obat-obatan.
***
Hanya itu yang dapat kuingat. Lalu, apakah mungkin Fatiya yang membawaku ke Rumah sakit ini.
Kupandang gadis yang masih saja terlelap itu. Lalu tiba-tiba saa dia terbangun.
“Alhamdulillah… Akhirnya Kak Tama bangun juga. Ya Allah, syukurlah. Maafkan Fatiya, kak. Maaf karena tiba-tiba saja Fatiya pergi tanpa pamit ke kakak. Maaf.”
Gila!! Gadis itu tiba-tiba saja menangis sambil memegang tanganku. Dan, kakak, apa maksud gadis ini. Seolah tahu aku masih bingung, lantas Fatiya segera menjelaskan semuanya kepadaku. Tentang sepasang anak kembar yang dipisahkan sejak lahir tanpa tahu satu sama lain, tentang kehidupannya, tentang keluarganya. Dan Anak kembar itu adalah kami. Aku dan Fatiya.
Deg. Aku tak percaya orang yang telah mulai kusukai itu adalah adik kembarku. Saudara kandungku. Ya Tuhan, skenario apalagi yang harus kumainkan.
***
Aku masih tetap terdiam, tidak tahu ke manakah Fatiya akan membawaku. Setelah setengah hari perjalanan kami, sampailah kami di suatu tempat yang belakangan kuketahui adalah pondok pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di Kota Kudus.
Aku masih tidak tahu apa yang ada di dalam benak adik kembarku ini. Setelah memasuki halaman rumah yang begitu bersih, kemudian aku diperkenalkan Fatiya kepada seorang pemuda yang nampak sangat bersahaja.
Ternyata dia adalah Imam, calon suami Fatiya. Alasan adik kembarku itu mencariku, yaitu agar aku menjadi wali yang akan menikahkan mereka berdua. Tiga bulan Fatiya menghilang karena dia ingin mempersiapkan semua keperluan pernikahannya dan keperluanku kelak, karena ia ingin aku tinggal bersamanya.
Dan di sinilah aku sekarang, menjalani hari-hariku sebagai seorang santri. Menemukan kembali kebahagiaanku yang sempat kurasakan menghilang. Bersama Fatiya dan Imam, serta keponakan-keponakan kecilku yang begitu lucu. Ya, Allah telah mempertemukanku dengan kebahagiaan sejatiku di jalan cintaNya.
KotaSantri.com © 2002-2026