Pelangi » Pernik | Ahad, 3 Januari 2010 pukul 18:33 WIB

Ada Cinta pada Perempuan Itu

Penulis : Lizsa Anggraeny

"Nak, akhirnya kau datang jua. Masuklah! Ini rumahmu, usah ragu!" Terdengar pekikan suara riang dari sebuah halaman rumah yang kumasuki. Menatap seraut wajah asing itu, bingung apa yang hendak kukatakan. Sekilas nampak guratan bahagia menyambut kedatanganku. Hup! Dengan semangat, tangannya mulai mengapit lenganku yang masih berdiri tegak bagai patung batu, tak bersuara. Tangan yang lain mulai manarik koper dorongku, melewati halaman dengan rumput hijau segar, memasuki ruang tamu dengan lorong cukup luas, hingga tiba pada satu pintu yang tertutup kain gading berenda indah.

"Nah, ini kamarmu, ba'a? Rancak ndak?" (Bagaimana? Bagus tidak?). Istirahatlah, lelah nampaknya kau, Nak," ujarnya sambil membimbingku memasuki kamar tersebut dan meninggalkanku setelah berjanji akan menghidangkan masakan. Kurebahkan tubuhku pada kasur empuk bersprai biru lembut. Beberapa foto tampak menghiasi dinding. Kutatap satu foto berukuran sedang yang diletakkan di meja sudut kamar. Tampak foto pengantin berpakaian ala Minang dengan senyum bahagia. Lelaki pada foto itu sangat begitu aku kenal, sedang perempuan yang di sampingnya masih terlalu asing. Menatap foto itu, terasa ada kepedihan yang tiba-tiba menusuk disertai sebersit panas mata menahan tangis. Kupalingkan wajah dari foto itu, menatap sudut lain yang dihiasi pot indah dengan bunga mawar merah segar.

"Assalamu'alaikum, boleh masuk, Neng?" Tiba-tiba terdengar suara lelaki mengetuk pintu kamar. Mendengar suara itu segera aku bangkit menghambur ke pintu, setelah menjawab salamnya. Berjuta rindu tak mampu dibendung lagi. "Papi...!" Badanku menghambur dalam pelukan seorang lelaki yang telah lebih dari lima tahun tak pernah kutemui, sejak perpisahan itu.

"Iya, ini Papi," terdengar lelaki itu berkata dengan suara agak tercekat seolah menahan isak mendekap erat tubuhku. "Gimana perjalannya, lancar? Berapa jam dari Bandung ke Padang? Maaf, Papi tak sempat jemput di bandara. Sehat, Neng? Kangen rasanya lihat anak Papi yang satu ini." Seberondong pertanyaan meluncur darinya. Kutatap teduh matanya, terasa ia pun menyimpan berjuta kerinduan.

"Ba'a ko Papi nih, anaknya masih cape kok ditanya-tanya, biarkan istirahatlah," perempuan asing yang tadi menyambutku, tiba-tiba berdiri di samping. "Neng, ini Mama, sudah kenalkan?" ujar lelaki itu. "Masih ingat foto pernikahan yang Papi kirim beberapa tahun yang lalu?" ujarnya melanjutkan yang hanya kujawab dengan anggukan lemah tak berminat mendengarkan.

Kalau saja Papi tidak terus menerus mengirimkan surat agar aku datang ke Padang menjenguknya, tak ingin rasanya aku kembali ke kota ini dan harus bertemu perempuan itu. Kehadirannya telah membawa kepedihan tersendiri bagiku. Kalau tak ada alasan libur panjang satu bulan, tak ingin rasanya aku menghabiskan liburan ini di sini. Sebuah kota yang dulu pernah menjadi tempat bahagiaku sebelum peristiwa itu terjadi. Perceraian Mami dan Papi.

Jadilah kuisi hari-hari libur bersama Papi dan perempuan itu. Satu minggu berada bersamanya, masih berat rasanya lidah ini memanggilnya "Mama". Meskipun perempuan itu begitu baik memperlakukanku. Perhatian begitu tulus. Setiap hari tak pernah lepas hidangan meja makan dari berbagai masakan kesukaanku. Berbagai cara, ia usahakan agar liburanku berkesan. Mengajak jalan-jalan ke Bukit Tinggi, merasakan dinginnya air Danau Maninjau, serta berbagai tempat lainnya yang dirasakan olehnya harus kunikmati.

Dua minggu bersamanya, terasa ada kenyamanan saat aku berada di dekatnya. Belaian tangannya di kepalaku saat tubuhku asyik berebah menikmati sajian televisi, begitu lembut. Ucapan halus saat memanggil namaku. Cubitan pada pipiku saat ia merasa gemas. Keberadaannya selama 24 jam mendampingiku, terasa bergitu berarti. Ada getar lain yang kurasakan, getar kasih seorang ibu.

Tiga minggu bersamanya, lidah kaku ini telah berubah. Bagai burung kutilang yang selalu bersuara riang, begitulah aku saat bercerita di depan perempuan itu. Panggilan Mama yang dulu enggan kuucapkan, tak terasa mengalir dengan deru lancar dari bibir. Sehari tanpa panggilan itu rasanya ada yang kurang. Aku bebas bercerita padanya tentang beberapa pangalamanku saat bolos kuliah, tentang beberapa orang teman laki-laki yang mulai mengirimkan surat cintanya, tentang kenakalanku saat SMA. Semua aku ceritakan tanpa ada beban bahwa wajahnya akan berubah menjadi merah marah atau suaranya akan melengking tinggi tanda tak setuju. Ia begitu tenang mendengarkan dengan sesekali menampakan wajah tercengang di antara senyuman.

Di suatu hari, minggu keempat, saat aku baru saja menikmati indahnya anggrek putih di taman, Mama mendekatiku lalu menyodorkan selembar lipatan kertas. "Esok kau pulang, Nak, ini sikit kenang-kenangan, bacalah jika ada waktu," ucapnya diiringi senyum. Kuambil kertas tersebut. Warna merah muda dengan hiasan bunga mawar kecil di setiap sudutnya. Setelah kuusapkan tangan pada baju mengilangkan kotoran yang melekat, lipatan kertas itu kubuka dan tertegun membacanya.

Buat Anakku sayang, "Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau kehidupanmu; tapi marilah kita coba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan rasa jemu." Aku memang hanya perempuan kedua. Tapi izinkalah aku mengisi bagian dirimu menjadi seorang Ibu. Walau dari rahimku tak pernah terlahir engkau, anakku sayang. Biarkan cinta kasihku membelaimu, Nak.

***

Kini, tak terasa sudah 13 tahun waktu berselang sejak aku menerima surat tersebut. Berawal dari kenang-kenangan berupa surat itu, aku mulai sering berkirim surat padanya. Berbagai kisah romantika hidup, sering kuceritakan. Keberadaannya bagiku telah menjadi satu sisi yang harus ada, ia adalah sahabat bagiku di saat kesepian dan kejenuhan menerpa silih berganti. Aku terlanjur mencintainya.

Seperti pintanya di akhir surat dahulu, aku memperlakukan perempuan itu kini bagai seorang ibu yang harus kujunjung tinggi. Walau dari rahimnya aku tak pernah terlahir, dari air susunya aku tak pernah minum. Tapi ia tetap seorang perempuan yang juga memiliki naluri ibu. Dirinya pun ingin merasakan selaksa kasih sayang dari anak suaminya tercinta, meski beberapa anak-anak tersebut tak pernah terlahir darinya.

Mengenal Mama, hilang dalam benakku sosok buruk yang mengatakan ibu tiri kejam, ibu tiri tak punya kasih sayang. Sungguh, padanya aku merasakan kasih sayang yang tak terhingga, kelembutan bahasanya yang indah, kesejukan nasehatnya berharga. Curahan kasih sayang seorang ibu yang juga sering kurasakan dari Mami, ibu kandungku.

Pada perempuan itu, kini aku memanggilnya Mama. Menatap wajahnya pada bingkai foto, memoriku merekam erat setiap lekukan gurat wajahnya yang penuh kasih sayang. Ia kini mewarnai hidupku, duniaku. Kehadirannya mungkin pernah melukai hatiku, mencabik luka keluargaku. Tapi sudahlah, aku percaya di balik semua ini ada sutradara Mahakarya, Allah SWT yang kan memberikan hikmah. Kini tak ada luka menganga dariku, kakak, dan adik-adikku, serta Mami padanya. Kami percaya, inilah hidup, life goes on. Ada sisi bahagia, ada sisi duka terluka. Kebahagian dan kedukaan yang memang harus ada bagai satu koin uang dengan dua sisi yang tak bisa terpisahkan.

Pada perempuan itu, ada cerita lain tentang cinta seorang Ibu yang mewarnai kehidupanku saat ini. Love U Mama.

KotaSantri.com © 2002-2026