Pelangi » Pernik | Ahad, 13 September 2009 pukul 17:45 WIB

Sonia, Mengenangmu adalah ...

Penulis : Lizsa Anggraeny

Sonia, mengingatmu adalah kenangan, dalam syahdu Ramadhan beserta hujan, yang gunturnya menggelegar berkejaran bersama cahaya kilat, dengan cipratan airnya yang membanjiri selokan, dan kita berdua berlarian riang dalam seragam putih abu basah kuyup, tertawa sambil menikmati kecipak kecibung air hujan di genangan jalan, tak peduli pada beberapa mata yang memandang heran, gemas, atau pun aneh dengan teguran halusnya.

"Puasa-puasa huhujanan. Batal atuh!"

"Tong huhujanan, tereh bedug. Pamali."

"Euleuh... Naha Ngabuburitna kalahkah huhujanan?!"

Kita tak peduli, bersama-sama menikmati anugerah mulia. Melewati bulan agung penuh rahmat, dengan bermain air hujan. Pun tarawih bersama, satu kesempatan yang ditunggu. Berjanji saling membawa cemilan dalam kantong rahasia, yang kita santap diam-diam saat ceramah Abah Somatri dimulai, agar tak ketahuan kunyahannya oleh orang-orang di deretan shaf kanan kiri.

Dan saat malam takbiran bertalu-talu di penghujung Ramadhan, kita selalu memiliki harapan sama. Disapa kembali bulan nan mulia. Lalu bersama-sama kembali melewati tarawih, tajil, itikaf, atau pun hujan yang menyejukan di bulan agung. Meski harapan tak selamanya indah.

Kau ingat, Sonia? Bulan Sya'ban terakhir kita. Bulan yang seharusnya banyak rencana yang kita susun untuk menyambut tamu istimewa, Ramadhan. Ternyata tak seindah yang dibayangkan. Saat itu aku terbelalak dengan mata nanar tak percaya. Hati perih bagai tertancap ribuan panah, sakit.

"Nong, dua bulan ke depan aku merit!" ucapmu sambil mempermainkan rambut ikal tergerai. Aku terlonjak riang. Bahagia untuk pertama kali mendengarnya.

"Tahu siapa bakal suamiku? Siborangit. Kamu pasti tahu, Nong."

Aku bagai tercekik, menahan pekik. Berusaha meyakinkan telinga salah mendengar. Siborangit tentu saja kenal. Pemuda aktifis kerohanian dari agama yang berbeda. Suara bassnya mengiri beberapa lagu pujian sering mendapat decakan kagum. Menikah dengan Sonia? Tidak mungkin!

"Bulan depan, mungkin aku masuk asrama. Biar lebih mantap."

Aku tahu ke mana arah pembicaraan. Dadaku berdebur dengan letupan yang membuncah. Berusaha mencegah agar tak semudah itu berganti keyakinan. Kau tahu? Saat itu dadaku bagai tersayat-sayat. Ramadhan di depan mata! Dan kita berjanji akan melewatinya bersama, melalui malam-malamnya dengan tarawih, menikmati syahdunya dengan menunggu malam seribu bulan. Bukan pembicaraan berganti aqidah.

Keputusan rupanya sudah bulat. Menjual aqidah atas nama cinta? Aku masih belum percaya. Berharap semuanya hanya mimpi buruk. Dan sejak saat itu, aku kehilangan sahabat dalam melewati Ramadhan.

***

Sonia, sudah hampir tujuh kali Ramadhan aku lewati di negeri seberang. Negeri dengan matahari terbitnya, dengan baju khas kimononya. Di negeri yang penduduknya menganggap Amaterasu Omikami sebagai dewa yang patut dipuja, aku menemukan keindahan bulan suci.

Aku pernah menyangka Ramadhan di negeri ini akan terasa sepi, tanpa ada ruh syahdu gema adzan berkumandang saat berbuka. Ternyata dugaanku salah. Di sini, justru aku merasakan khusyunya bulan suci tanpa mengurangi kemeriahan Ramadhan. Bertemu dengan sahabat Jepang atau sahabat dari negara lain seiman, menambah semarak bulan mulia. Meski dari beberapa orang tersebut ada yang masih mualaf, namun semangatnya membuat lidah berdecak kagum. Berkumpul bersama di salah satu masjid, mengisi bulan mulia dengan tadarus, tarawih, itikaf, atau pun ifthar buka bersama, menjadi agenda rutin yang menyenangkan.

Sering dadaku bergetar syahdu dengan bulu kunduk berdiri saat lantunan adzan terdengar berkumandang atau mendengarkan suara tilawah terbata-bata dari mualaf Jepang. Indah, teramat indah dapat mendengarkan seruan kalimat Allah di bumi yang minoritas muslim.

Kau tahu, Sonia, ada keasyikan lain yang kurasakan di bulan Ramadhan, selain kecipak kecibungnya saat hujan turun, ngabuburit mengunjungi beberapa masjid di sekitar Tokyo bersama sahabat Jepang, adalah keasyikan. Mengingatkan kenangan indah saat kita melewati Ramadhan bersama, dengan riang bermain hujan.

Begitu pun hari raya. Meski tak semeriah di tanah air, semaraknya tetap terasa. Bersantap bersama dengan hidangan kare ala Pakistan ataupun ketupat ala Indonesia diiringi alunan takbir, meski hanya dari tape recorder, terasa nikmat. Walau tak berjumpa handai tolan, di sini aku menemukan keluarga baru. Para sahabat seiman dari berbagai negara yang berkumpul untuk melaksanakan shalat Ied bersama. Setidaknya dapat menghapus kerinduan pada keluarga di tanah air.

Sonia sahabatku, tak terasa, kembali Ramadhan akan berakhir. Telah menyapa orang-orang yang selalu teguh pada jalanNya. Kau tahu? Di akhir Ramadhan ini aku bahagia, teramat berbahagia. Ingin rasanya terus bersujud sebagai ungkapan rasa syukur. Tepatnya, aku bahagia sejak tahun lalu. Ketika membaca mail terakhirmu yang disertai lampiran foto. Kau tersenyum manis mengenakan hijab ungu muda. Dengan kutipan kalimat yang begitu aku damba.

"Nong, aku terlahir kembali di jalanNya. Do'akan istiqamah."

Saat itu aku menangis sejadi-jadinya, bahagia! Kebahagiaan yang tak bisa terungkap oleh kata-kata, namun syahdunya begitu menghujam di jiwa. Akhir yang manis sahabat. Menggenggam kembali mutiara iman yang hilang.

Syahdu, mengenangmu bersama Ramadhan selalu penuh kesyahduan. Meski kini berjauhan. Semoga sang tamu agung dapat kita jelang kembali. Menikmati bulan anugerah, penuh rahmat dan ampunan. Bulan dimana nafas kita menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal-amal diterima, serta do'a-do'a diijabah. Yang hari-harinya adalah utama. Yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam kesyahduan yang tak pernah hilang.

Semoga... Insya Allah.

Catatan
1. Amaterasu Omikami = Dewa Matahari
2. Tong huhujanan, tereh bedug. = Jangan hujan-hujanan, bentar lagi bedug.
3. Naha ngabuburitna kalahkah huhujanan? = Kenapa malah hujan-hujanan?

KotaSantri.com © 2002-2026