
Pelangi » Pernik | Ahad, 19 Juli 2009 pukul 18:30 WIB
Penulis : Meyla Farid
"Mama...!!!" teriak bapak, persis di depan ibu. Ibu berusaha menghindari pukulan tangan dan tendangan kaki bapak yang tak berhenti melayang di tengah cacian. Aku menyaksikan adegan-adegan itu, hampir tiap hari. Aku tidak tahu mengapa aku tidak menangis melihat kekejaman bapak. Mungkin dulu aku suka menangis, tapi entah sejak usiaku berapa tahun aku berhenti menangis. Hanya mataku pasti melototi bapak.
Benci, kurasakan sangat membakar dadaku. Aku rasanya ingin membungkam mulut bapak agar berhenti berkata-kata kasar. Menerjang dan memukuli bapak. Persis seperti yang sering bapak lakukan pada ibu. Tapi entah kenapa, aku jadi ciut kalau bapak sudah melayangkan kakinya padaku.
Aku paling lemah di antara anak-anak bapak. Paling cengeng. Paling penakut. Tapi aku paling membenci bapak. Perasaan benciku terukur ketika badai itu melanda rumah keluargaku. Di antara anak-anak bapak, akulah yang paling membencinya. Sebenarnya, itu bukan badai pertama, tapi terbesar yang pernah ada. Beberapa hari setelah pernikahan kakak pertamaku, kabar itu menghancurkan hati dan raga ibuku.
"Bapak nikah lagi, Na, dengan sepupu si Heruman," isak ibu, waktu aku baru tiba di rumah.
Sebenarnya aku tidak terlalu kaget, sudah banyak rumor beredar. Tapi kali ini ibu cerita kalau kakek, ayahnya bapak pun sudah tahu. Dan kakak tertuaku sudah memastikan kebenarannya. Bahkan usia pernikahan bapak dengan wanita yang seusia denganku itu sudah menghasilkan seorang bayi!
"Bu, cerai aja. Aku dukung ibu cerai," kataku.
Ibuku terdiam. Bagiku, ibuku jauh lebih cantik. Banyak yang mau sama ibu seandainya bapak menceraikan. Tapi kakak melarang.
"Jangan, Bu. Gak mikir apa, kalo kamu nikah siapa yang jadi wali kamu ntar?"
"Aku gak peduli! Aku gak butuh bapak! Kalau perlu, gak nikah juga gak apa-apa!" kataku, penuh benci.
***
Aku tidak tahu mengapa ibu yang bertahun-tahun disakiti, lahir dan batin, tapi masih mau mempertahankan laki-laki seperti itu!? Yang kuingat, dari awal, sampai setahun kemudian bapak sadar, aku meminta ibu cerai dari bapak. Hari demi hari waktu itu, kuhabiskan bolak balik antara kota tempatku kuliah dan pulang ke rumah. Karena saudara-saudaraku sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangganya, aku yang paling sering menemani ibu.
Perkembangan cerita selanjutnya, aku tahu kalau orangtua si istri muda bapak itu seorang 'dukun'. Ada kabar, bapakku diguna-gunai. Waktu itu pekerjaan bapak memang sedang naik-naiknya. Banyak saingan dan banyak 'teman'. Whatever... Aku tetap tidak ingin ibu disakiti lagi. Tapi aneh bin ajaib, ibuku sendiri lebih memilih mempertahankan bapak, yang pernah membuatnya harus berobat karena ginjalnya dilempar asbak oleh bapak, pernah kesiram air panas. Ya Allah, aku sangat mencintai ibuku. Bahkan, kalau aku bukan orang beriman, aku sangat ingin memukuli bapak. Astaghfirullah...
Kalau aku mengenang saat-saat itu, air mata takkan sanggup kutahan-tahan. Aku begitu membenci bapak.
***
"Pulang, Na. Bapak nyebut-nyebut nama Nina terus," rayu ibu.
Aku terdiam. Mematung. Ada rasa ketakutan dalam dadaku. Aku takut kehilangan.
"Tapi operasinya lancar-lancar aja kan?" kataku, datar.
"Iya. Tapi bapak ingin ketemu Nina. Sepanjang malam hanya memanggil nama Nina. Pulang ya! Bapak pingin ketemu sebentar saja. Pulang ya, Na!"
Mataku sudah basah. Aku menyayangi bapak, seperti apa pun bapak.
"Iya, Bu, besok Nina pulang." Ibu terdengar lega.
***
Di pembaringan itu, kupandangi wajah bapak yang pucat. Bibirnya terlihat kering. Ibu, duduk di sebelahnya sambil membaca Al-Qur'an.
"Na, tuh bicara sama bapak. Bapak pasti mendengar kok," kakak memegang pundakku.
Aku menggigit bibir. Menarik nafas, yang seperti mencekik kerongkonganku sejak tadi. Pelan-pelan kudekati tubuh terbaring bapak. Ibu mendongakkan kepalanya. Ketika melihatku, matanya yang letih itu sedikit berbinar. Ibu tersenyum, "Duduk sini, Na!" Ibu menggeser kursi untukku. Ibu duduk persis dekat kepala bapak. Aku duduk di sebelah ibu. Kedua tanganku meraih tangan bapak yang terkulai lemah. Kugenggam erat-erat. Air mataku membuncah tak tertahankan lagi. Aku menangis terisak-isak. Sungguh, aku mencintai bapakku. Tak mau kehilangan bapakku.
"Na..." suara bapak, meskipun sangat lirih, menyadarkanku dari isak tangis. Bapak yang sedang berbaring lemah sehabis dioperasi itu tersenyum. Tangan satunya lagi yang tidak kugenggam mengusap-usap kepalaku. "Sudah, tidak apa-apa kok. Nina baik-baik saja kan?"
Wajahku tersungkur di tangannya.
"Iya, pak. Nina baik-baik saja. Cepat sembuh ya, Pak!"
Bapak hanya tersenyum.
***
Aku menutup diary-ku. Tulisan-tulisanku tentang kebencian, sudah kusobek semua. Sebagai gantinya, aku tak sabar lagi ingin segera pulang, bertemu dan bercengkerama dengan ibu dan bapak.
"Nina janji, akan menjadi yang terbaik yang kalian inginkan," senyumku, memandang potret kedua orangtuaku.
Cerita dari seorang teman.
KotaSantri.com © 2002-2026