
Pelangi » Pernik | Ahad, 28 Juni 2009 pukul 18:11 WIB
Penulis : aozora_hime
Jam setengah tiga pagi, aku tersentak bangun. Bukan karena alarm berbunyi yang telah ku-set malam sebelumnya, tapi ada sebuah mimpi yang membuatku bisa bangun secara tiba-tiba.
Aku tersadar bahwa aku bermimpi bertemu dengan Manager-san. Aku bertanya dalam hati, kenapa hal ini terjadi padaku? Apakah ini adalah jawaban istikharah yang kulakukan kemarin malam? Tiba-tiba kenangan saat bertemu pertama kali dengan beliau kembali berputar di dalam kepalaku. Aku pun menangis seketika. Aku menangis karena aku belum pantas buat Manager-san yang menurutku adalah seseorang yang perfect alias sempurna. Latar belakang keluarganya baik, lulusan universitas ternama di Jepang, ditambah lagi jabatan yang ia jabat di sebuah perusahaan ternama di Jepang pun juga sangat prestisius. Belum lagi ibadah dan hapalan Al-Qur’an-nya lebih baik dariku. Aku merasa rendah diri melihat kesempurnaannya itu. Aku menangis di antara bahagia dan sedih. Bahagia karena tidak menyangka bahwa dia memilihku sebagai pendamping hidupnya dan sedih karena perbedaan yang sangat mencolok antara diriku ini dengan dirinya.
Aku segera bangkit dan bangun. Aku menghapus sisa air mata yang masih menggenang. Aku kembali teringat bahwa aku harus fokus dengan studi yang harus kuselesaikan dalam waktu selama enam tahun mendatang. Dan Manager-san menungguku dengan rentang waktu selama itu di Jepang. Aku ragu, apakah dia memang sanggup menungguku dengan waktu selama itu. Kemudian aku teringat pembicaraan dengan seorang saudara, seminggu yang lalu.
“Subhanallah. Beruntung kamu ya, Dik. Kalo Kakak mana tahan bisa nunggu selama itu. Pasti dia laki-laki yang tangguh, deh!"
Aku tersenyum saat si kakak berkata seperti itu, mengingat beliau belum menikah sampai sekarang. Kalo dipikir-pikir, memang benar apa kata si kakak. Baru kali inilah aku menemukan seorang lelaki yang mau menunggu selama itu. Pikiranku beralih dengan perkataan teman tempo hari lalu.
“Ayo, cepetan shalat istikharahnya. Nanti keburu diambil orang loh!"
Aku tertawa mendengarnya. Tentang hal ini, hanya dua orang sahabatku yang tahu. Karena aku belum mampu memberitahu kepada orangtua dan kakak-kakakku, mengingat umurku yang masih muda dan harus fokus dengan studi. Saat aku memberitahu dua orang sahabatku itu, mereka berdua senang sekali. Mungkin bagi mereka, aku ini sangat beruntung bisa mendapatkan calon suami dari Jepang. Dan tentu saja mereka terkejut luar biasa saat aku memberitahu berita ini. Bagaimana bisa aku yang terkenal dengan sifat pendiam ini bisa mempunyai calon lebih dulu dari mereka berdua?
Enam tahun merupakan waktu yang tidak pendek. Selama rentang waktu itu, segala sesuatu bisa berubah. Aku pun tidak tahu, apakah Manager-san memang suamiku di masa depan nanti. Aku bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Mengambil wudhu untuk menghadap dan meminta petunjuk kepadaNya atas keraguanku ini.
Malam sebelumnya, aku sudah shalat istikharah. Jawaban yang aku dapatkan bahwa Manager-san adalah memang suamiku. Tapi, rasa ragu mulai menyelusup di dalam hati, mengingat kami berdua harus menunggu sampai aku menyelesaikan studiku di Indonesia. Dan lagipula, kami berada di negara yang berbeda. Berpuluh-puluh mil jarak memisahkan kami. Setelah menyelesaikan qiyamul lail, aku melanjutkan dengan istikharah. Do'aku lumayan panjang. Meminta petunjuk apakah beliau memang benar suami setelah enam tahun nanti. Aku hanya pasrah kepada Allah, karena hanya itulah satu-satunya cara yang aku bisa lakukan. Jika dia bukan jodohku, aku akan mendapat pengganti yang lebih baik darinya.
Setelah istikharah, aku segera belajar untuk menghadapi ujian bulan depan. Satu jam setelah itu, mataku sudah berat dan tidak sanggup lagi kutahan. Aku berpikir, mungkin tidur selama setengah jam cukup bagiku sebelum adzan subuh berkumandang.
Di dalam mimpiku, aku bertemu dengan Manager-san. Wajahnya tidak bisa kulihat karena terhalang sesuatu dan ia hanya tersenyum kepadaku. Senyumnya sangat ramah dan tulus. Walaupun aku belum mendapatkan fotonya sampai sekarang, tapi aku yakin sekali bahwa dia di dalam mimpi ini adalah Manager-san. Karena tepat saat itu juga, ia mengenalkan namanya kepadaku. Namanya sama persis dengan nama beliau.
Adzan subuh berkumandang. Tepat saat itu alarmku berbunyi. Aku terbangun dan tersadar bahwa aku bertemu dengan beliau walaupun itu hanya mimpi. Tapi aku yakin sekali bahwa hal itu pasti jawaban dari do'a sehabis shalat istikharah tadi. Subhanallah...
Aku sama sekali tidak menyangka, dua kali aku istikharah dan dua kali pulalah aku mendapatkan jawaban yang sama bahwa Manager-san memang suamiku setelah enam tahun nanti. Aku berucap syukur kepada Allah dan sehabis shalat shubuh aku memanjatkan do'a kepada Allah, moga kami tetap istiqamah di jalanNya dan dipertemukan di pernikahan suci yang Dia ridhai.
Kemarin siang, aku bertanya pada manager-san, apakah dia sudah melakukan istikharah seperti yang kulakukan sebelumnya.
“Yeah. I already have did that. In my dream, you are my wife."
Masa tunggu selama enam tahun itu merupakan waktu yang tidak pendek. Segala sesuatu bisa saja berubah. Dan Allah-lah yang mempunyai kehendak dalam mengatur kehidupan ini.
“Kapan walimahannya, ukhti? Nggak bisa bayangin kalo ukhti nanti pakai kimono."
“Tetap istiqamah ya, ukhti! Jaga hati dan pikiran. Kalo nggak tahan juga, langsung nikah. Kali aja bisa kuliah di Jepang dan biaya semua ditanggung olehnya. ^__^"
Aku tersenyum saat mendapatkan sebuah pesan dari salah satu sahabatku itu.
KotaSantri.com © 2002-2026