|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|





Selasa, 19 November 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan
Betapa sesungguhnya ilmu sangat mempengaruhi akhlak, kawan. Sesungguhnya demikian.
Sesungguhnya... Karena kenyataannya, tidak sedikit ilmuwan cerdik cendikiawan yang meninggi. Karena ilmunya ia menjadi tinggi, bukan menunduk seperti padi, tapi seperti kapas, ilmu itu berterbangan dan di luar kulit buah tinggal ampas tanpa isi, kosong melompong. Ilmu tidak di hati, tapi di akal ia menyombongkan diri. Sungguh, kawan, sungguh bukan demikian ilmu itu seharusnya bekerja.
Na'udzubillah, mari dengar nasihat ini, mari baca pesan Al-Ghazali, telah lama pula ia menuliskannya. Dalam kitabnya Tazkiyatun Nafs, sari dari Ihya Ulumuddin, terpetiklah kalimat ini.
Umar RA berkata, "Belajarlah ilmu dan belajarlah tawadhu dan santun kepada ilmu."
Ali RA berkata, "Kebaikan itu bukan dengan banyak harta dan anak, tetapi dengan banyak ilmu, sikap santun, tidak membanggakan ibadah kepada orang, apabila berbuat kebaikan memuji Allah dan apabila berbuat keburukan memohon ampunan kepada Allah."
Al-Hasa berkata, "Carilah ilmu dan hiasilah diri dengan sikap tawadhu dan santun."
Aktsam bin Shifi berkata, "Tiang penopang akal adalah sikap santun, sedangkan penghimpun segala urusan adalah kesabaran."
Ali RA berkata, "Sesungguhnya hal yang pertama kali menjadi ganti kesantunan seorang penyantun adalah bahwa semua orang menjadi pendukungnya dalam menghadapi orang bodoh."
Mu'awiyah rahimahullah berkata, "Seorang hamba tidak akan mencapai derajat cerdas sebelum kepenyantunannya mengalahkan kebodohannya dan kesabarannya mengalahkan syahwatnya; dan ia tidak akan mencapai hal tersebut kecuali dengan kekuatan ilmu."
Mu'awiyah berkata kepada Amer bin Al-Ahtam, "Siapakah orang yang paling berani?" Ia menjawab, "Orang yang menolak kebodohannya dengan kesantunannya." Mu'awiyah bertanya lagi, "Siapakah orang yang paling dermawan?" Ia menjawab, "orang yang mengorbankan dunianya untuk kemaslahatan agamanya."
Mari belajar, mari bersihkan hati, dan jauhi godaan setan dan nafsu dalam hati. Bismillah...
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ashif Aminulloh Fathnan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.