
Pelangi » Percik | Selasa, 5 November 2013 pukul 19:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Tujuan dari penciptaan kita adalah untuk beribadah. Tapi di sisi lain, kita juga punya tugas memakmurkan bumi, menegakkan keadilan, menyebar kedamain, dan menjauhi berbuat kerusakan. Pada keseluruhan tujuan dan tugas hidup itulah, kita menemukan banyak godaan, rintangan, dan halangan. Godaan pertama datang dari syetan. Yang hari-hari ini semakin punya banyak macam pendukung dari kalangan manusia.
Di dalam Al-Qur'an, Allah menjelaskan tentang berbagai hal penting dalam hidup. Seperti keharusan mentaati Allah, berbakti kepada orangtua, mengasihi orang yang tidak punya, berlaku adil dalam timbangan, dan lain-lain. Seluruh ajaran itulah inti dari jalan lurus yang diperintahkan Allah untuk kita lalui.
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-An'am : 153).
Para ulama dan ahli tafsir mengatakan, yang dimaksud dengan jalan-jalan yang lain adalah agama-agama dan kepercayaan yang lain dari Islam. Sementara seorang ulama ahli tafsir bernama Mujahid mengatakan, jalan lain adalah jalan bid'ah dan segala jalan yang tidak benar.
Dalam konteks itulah, sejujurnya, merenung tentang kematian, memberi kita daya pengingat dan penegur kala kita mulai tertarik kepada jalan yang tidak lurus. Mengingat kematian dengan serius dan sungguh-sungguh, akan menyadarkan, bahwa jalan yang salah itu akan berujung ke neraka.
Seorang mukmin, semestinya secara sadar dan sepenuh hati, meluangkan saat-saat tertentu untuk merenungkan kematian. Kematian diingat bukan untuk memupuskan semangat hidup. Tapi ia diingat, agar di tengah segala kelelahan kita, kita tidak lelah dua kali, lantaran kita salah menempuh jalan hidup.
Abu Luthfi Ar-Rasyid # Dimuat Ulang dari Arsip KSC # 14-05-2008
KotaSantri.com © 2002-2026