Pelangi » Percik | Selasa, 17 September 2013 pukul 22:00 WIB

Orientasi Makna

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Saudaraku...

Tahukah kita, semua kejadian di atas bumi dapat terjelaskan secara ilmiah. Kecil, besar, sempit, luas, bencana, gembira, tangis, tawa, sengaja, maupun hal di luar duga. Semua dapat terjelaskan secara ilmiah dan logis, merdeka dari ketersangkaan dan kebodohan.

Namun, tahukah, saudaraku? Untuk membuat hidup ini indah, kita tak boleh hanya berhenti pada garis itu, kita tak boleh hanya bermain dalam otak intelektual yang terbatas, karena sebagaimana tabiatnya, akal mencerna dan memamah tanpa rasa, ia buta pada makna, pada arti dan orientasi abadi.

Maka apakah itu makna? Apakah itu arti dan apa pula keabadian?

Begitulah Islam mengajari kita. Ia selalu membawa tanya, apakah kejadian ilmiah itu memberi makna pada kehidupan kita, pada kehidupan yang hakiki?

Semua kejadian di dunia, jika hanya berhenti pada pemaknaan ilmiah, maka tidak akan pernah mencapai tujuan inti, yaitu taqarrub ilallah. Seluruh aktifitas hidup seharusnya diberi orientasi yang jelas, diberi kekuatan penuh pada sisi spiritualnya. Inilah yang memberi makna pada semangat peradaban Islam, sejak dulu hingga hari ini, semangat aktifitas hidup dalam bingkai Islam adalah mencari ridha Allah dengan terus mendekatkan diri padaNya.

Maka, seluruh kegiatan itu termasuk pula bekerja di kantor, berdagang di pasar, belajar di sekolah, mengayuh becak di jalanan aspal, menggali tambang di lepas pantai, mencari posisi di panggung politik, mengetik laporan keuangan tahunan, semua adalah cara untuk mencari ridha Allah, semua adalah jalan untuk mendekatkan diri padaNya.

Dengan jalan ini, maka hati orang-orang akan saling bertemu, dan kebaikan akan saling mendukung kebaikan, harmoni dalam tatanan dien yang hakiki. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

KotaSantri.com © 2002-2026