Pelangi » Percik | Jum'at, 7 Desember 2012 pukul 12:00 WIB

Menyoal Rasa

Penulis : Rifatul Farida

Jika sejenak saja kita mau merenungi semua letupan emosi dalam diri, ternyata itu hanya soal rasa. Kecewa, marah, sedih, bahagia, bahkan cinta, itu semua tentang rasa. Ya, hanya soal rasa. Tak lebih, tak juga kurang.

Masalahnya adalah, kadang dalam banyak kejadian kita gagal mengendalikannya dan cenderung mendramatisir. Yang pada akhirnya, ini menjadi sesuatu yang bisa merusak fitrah diri. Terlebih, jika rasa-rasa itu kemudian ditunggangi oleh nafsu, baik di awalannya, di pertengahannya, maupun di akhirannya. Bahkan mungkin nafsu yang memicu sebuah rasa (rasa apa saja) bergejolak dan kita menurutinya tanpa koreksi apalagi protes.

Karena ini soal rasa yang ada dalam diri, maka inipun secara hakikat hanya menjadi masalah kita seorang, bukan masalahnya orang lain, meskipun rasa ini berhubungan dengan orang lain. Itu artinya, bahwa sebenarnya kitalah yang memegang “kartu as” pada perasaan kita sendiri.

Seorang muslim yang baik adalah seorang muslim yang mampu memenej dirinya sendiri. Dan tentu saja, seorang muslim yang mempunyai manajemen bagus terhadap dirinya sendiri adalah seorang muslim yang mampu mengendalikan dirinya sendiri. Mengendalikan diri sendiri, itu artinya juga mencakup mengendalikan semua perasaan yang ada dalam diri. Yang kemudian ini bisa dijadikan tolak ukur keimanan seseorang. Yakinlah, bahwa seseorang yang mempunyai keimanan prima akan lebih terlihat bisa mengusai diri sendiri, baik ketika ia marah, kecewa, sedih, gembira, bahkan jatuh cinta.

Perbedaan jelasnya adalah, ketika ia kecewa, ia yang (segera) mengendalikan kekecewaan itu, bukan ia yang dikendalikan rasa kecewa. Ketika ia marah, ia yang (segera) mengendalikan kemarahan itu, bukan ia yang dikendalikan rasa marah. Pun ketika ia jatuh cinta, ia yang (segera) mengendalikan cinta itu, bukan ia yang dikendalikan rasa cinta.

Sekali lagi, semua ini hanya soal rasa. Yang kemudian berlaku bagi kita; soal mengendalikan atau dikendalikan oleh perasaan.

Wallahu a’lam.

KotaSantri.com © 2002-2026