
Pelangi » Percik | Jum'at, 5 Oktober 2012 pukul 10:30 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Ya, antara film “Innocence of Muslims” dan kredibilitas cinta kita kepada sang Nabi SAW. Kalimat ini yang sedang merangkai di rendah dasar hati dan memagnet perhatian saya untuk sejenak direnungi, ketika saya ingati sebuah nasehat sederhana dari seorang ustadz panutan, bahwa beruntunglah seseorang, jika segala peristiwa yang sampai di telinga dan matanya, menjadikan kualitas keimanannya semakin baik, menjadikan semakin dekat dirinya dengan Allah SWT. Sebab, segala peristiwa yang terjadi di dunia ini, adalah atas izin Allah SWT.
Memang, kita tidak terima dan tentu saja marah, ketika Nabi kita yang mulia dihina dan dilecehkan, meski ini tak kan mengurangi sedikitpun kemuliaan beliau SAW. Tapi, bisakah, momen ini juga harusnya menjadikan kita tetap cerdas berpikir dan merenung? Kenapa film “Innocence of Muslims” ada dan untuk apa ada? Adakah di samping menyulut emosi kita dengan rasa marah, juga menyentak kesadaran kita pada sisi keimanan?
Jika kita marah pada siapa saja yang terlibat dalam pembuatan dan penyebaran film “Innocence of Muslims” lantaran kecintaan kita kepada sang Nabi SAW, bisakah sejenak saja kita berhenti di kata cinta, kemudian tanyakan pada diri sendiri, tentang kredibiltas cinta itu?
Kita yang mengaku cinta pada sang Nabi Muhammad SAW, seberapa tahu dan mengenalnya? Mengenal beliau SAW tak berarti sebatas mengenali biografi beliau SAW, tapi juga mengenali sunnah-sunnah dan ajarannya. Sebab, harusnya, semakin kita mengenali beliau SAW, akan berbanding lurus dengan kredibilitas (pengakuan) cinta kita kepada beliau SAW. Dan harusnya, atas pondasi rasa cinta inilah, konstruksi semua laku dan cara pandang hidup kita terbentuk.
Barangkali, inilah yang ingin Allah sampaikan kepada kita, ummat Muhammad SAW. Agar kita mengevaluasi kembali kredebilitas rasa cinta kita kepada Nabi SAW. Yang kemudian, berderet pertanyaan retoriknya adalah; sebelum film ini ada, kapan terakhir kita menyebut nama beliau SAW (baca : bershalawat)?; apakah cara pandang hidup kita selalu dirujukan pada dalil-dalil yang beliau SAW pernah sampaikan?; apakah kita telah mengikuti sunnah-sunnahnya?; apakah kita telah menjadikan beliau SAW sebagai uswatun khasanah yang sebenarnya?; bagaimana dengan adab keseharian muslim kita?; bagaimana dengan gaya hidup kita? bagaimana dengan semua hal yang ada di kehidupan kita sekarang?; benarkah telah mengacu pada sang Nabi SAW?
Dan masih banyak pertanyaan yang terus bisa kita jadikan tolak ukur kredibilitas kecintaan kita kepada Nabi SAW.
Ya, kita marah pada siapa saja yang terlibat dalam pembuatan dan penyebaran film “Innocence of Muslims” lantaran kecintaan kita kepada sang Nabi. Dan sekarang, bisakah atas nama keimanan, kita “marah” pada diri sendiri yang harus disentak dulu dengan peristiwa ini untuk bisa mengevaluasi dan melihat kredibilitas cinta kita kepada Nabi SAW?
Allahummashalli ‘ala Muhammad, ya Rabbi Shalli ‘alaihiwasallim.
Astaghfirullahal’adzim. Allah, ampuni kami.
Kami memohon kecintaanMu, kecintaan mereka yang mencintaiMu, dan amalan-amalan yang mendatangkan kecintaanMu. Aamiin…
KotaSantri.com 2002-2026