
Pelangi » Percik | Jum'at, 10 Agustus 2012 pukul 15:00 WIB
Penulis : Muhammad Hilmy
Ramadhan kembali menghampiri kita. Hampir semua muslim di dunia ini menyambut dengan antusias. Keantusiasan itu bisa dalam bentuk menghias rumah, masjid, dengan hiasan yang meriah. Keantusiasan itu ada juga yang dalam bentuk persiapan bekal sembako selama sebulan, ada pula yang dalam bentuk persiapan diri untuk bisa maksimal beribadah.
Apapun bentuknya, Ramadhan benar-benar istimewa. Banyak perubahan terjadi dalam diri kita. Tadinya malas membaca Al-Qur'an, tiba-tiba jadi rajin. Tadinya seminggu sekali pergi ke masjid untuk shalat berjama'ah, sekarang minimal 3 kali ke masjid. Mungkin inilah yang disebut bulan penuh berkah, kebaikan kita tumbuh subur bagai bunga yang baru mekar. Nah, yang namanya bunga pasti ada saatnya layu. Begitu juga dengan semangat kita beribadah, ada saatnya mengalami masa kemunduran dan itu wajar. Rasul sendiri pernah bersabda bahwa keimanan itu naik-turun. Pertanyaannya, kapan antusias yang semarak ini akan surut? 10 hari pertama? 10 hari pertengahan? Atau justru tidak surut, malah semakin meningkat hingga Ramadhan berakhir?
Ini Ramadhan, bulan yang tiap detiknya adalah pahala. Bulan yang tidur saja dianggap pahala, apalagi beribadah. Jangan surutkan antusias dan semangat di masa-masa awal, jangan jadikan ini hanya seremonial belaka yang ujung-ujungnya tak ada perubahan positif dalam diri kita. Kalau semua antusias ini hanya seremonial belaka dalam menyambut awal Ramadhan, rasanya sayang sekali momen selama sebulan ini dilewatkan. Siapa tahu ini Ramadhan terakhir kita.
Selamat berprestasi di bulan Ramadhan.
KotaSantri.com © 2002-2026