
Pelangi » Percik | Jum'at, 27 Juli 2012 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Puasa mengandung makna menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Proses penahanan diri merupakan wujud kesuksesan secara lahiriah. Apa yang ditahan? Segala hal yang dapat membuat kita lalai. Misalnya makan, minum, bersetubuh, dan lain-lain. Kenapa saya kategorikan sebagai yang melalaikan? Karena makan, minum, bersetubuh, dan lain-lain adalah aktivitas yang melalaikan kita dari tujuan utama puasa. Yaitu, merasakan kesulitan yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang fakir.
Jika kita mampu merasakan itu, maka kita termasuk Sha’im yang sukses. Sukses bisa merasakan apa yang dirasakan orang fakir yang berada di bawah kita statusnya. Sedangkan si fakir, ketika puasa tujuannya adalah merasakan adanya kebersamaan yang ditetapkan Allah kepada umat Islam. Si fakir dan si kaya sama-sama meraih kesuksesan. Si kaya sukses karena bisa menahan kenikmatan sesaat. Sedangkan si fakir juga sukses karena bisa menahan diri untuk tidak selalu merasa hina.
Karena itu, Islam benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Memberikan kasih sayang agar satu dengan lainnya saling merasakan. Orang kaya misalnya, merasakan bagaimana si miskin menahan lapar. Sedangkan si miskin merasakan bagaimana enaknya hidup dengan ada harta ketika diberi zakat fitrah di akhir Ramadhan.
Jika ditelusuri, Puasa mengandung spirit kesuksesan. Kesuksesan buat siapa saja yang ingin bahagia. Dengan menahan diri dari menikmati sesuatu akan membawanya menjadi orang yang sukses. Kesengsaraan sedikit akan tetap melahirkan kebahagian yang cukup berarti nantinya. Maka, cukup tepat istilah sengsara membawa nikmat disematkan kepada orang-orang yang memaknai puasanya dengan penuh keimanan dan keikhlasan karena Allah.
KotaSantri.com © 2002-2026