Pelangi » Percik | Jum'at, 14 Oktober 2011 pukul 13:01 WIB

Menggenggam Kun Fayakun-Nya

Penulis : Rifatul Farida

Kaf ha ya ain shad.

Ketika kalamNya menjelaskan tentang rahmatNya. Ketika do'a dipanjatkan dengan suara terlembut, "Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah, dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepadaMu."

Kemudian, do'a-do'a itu terkabulkan, tanpa pertimbangan logika keadaan. Di usia yang telah tua, isteri yang mandul, Yahya hadir menjadi cahaya mata. Membinarkan bahagia ke penjuru negeri.

Zakaria, menjadi referensi shahih, tentang dahsyatnya efek takwa yang menghadirkan kun fa yakun-Nya, dengan penegasan kalimat yang disampaikan oleh Jibril; hal itu sangat mudah bagiNya.

Kemudian Maryam melengkapi cerita, ketika mengasingkan diri dari keluarganya ke Baitul Maqdis, sebuah tempat di sebelah timur. Isa hadir menjadi anugerah, sebagai tanda kebesaranNya dan sebagai rahmat dariNya, dengan penegasan hal tak masuk akal itu. Lagi-lagi dengan sebentuk kalimat; hal itu sangat mudah bagiNya.

"Jadilah!" demikianlah Dia hanya bertitah, jika telah menetapkan sesuatu. Maka jadilah ia.

Mereka, telah 'menggenggam' kun fayakun-Nya dengan seruan sepanjang masa :

"Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu. Maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian, ini adalah jalan yang lurus." (QS. Maryam : 35).

Ya, ini adalah jalan lurus, jalan yang penuh dengan kun fayakun-Nya.

KotaSantri.com © 2002-2026