
Pelangi » Percik | Selasa, 6 September 2011 pukul 13:05 WIB
Penulis : H. Akbar
Ibadah haji adalah ibadah yang memerlukan kekuatan fisik, meskipun bukan merupakan jaminan, jamaah haji yang mempunyai kekuatan fisik akan lebih berpeluang untuk melakukan ibadah dengan baik. Lebih banyak ibadah yang dilakukan akan lebih banyak pula pengalaman yang dikumpulkan. Dalam melaksanakan aktifitas ibadahnya tentu saja setiap jamaah haji mempunyai pengalaman pribadi dimana pada umumnya mereka selalu mengungkapkan kesan yang sama, ‘Ibadah haji adalah ibadah yang melelahkan’.
Pelaksanaan ibadah haji memang melelahkan, tetapi harus diartikan bahwa kata melelahkan bukan hasil dari ibadah haji. Melelahkan adalah bagian dari hasil proses fisik secara alami. Siapapun yang melakukan pekerjaan yang melibatkan kerja fisik, pasti akan mengalami hal yang sama, yakni lelah. Di balik pekerjaan yang melelahkan itu pasti ada hasil yang dicapai, Hasil yang dicapai oleh seorang jamaah haji semuanya bergantung kepada niatnya masing-masing.
Seluruh proses ibadah haji baik yang termasuk ke dalam kategori rukun, wajib, maupun sunat haji semuanya memerlukan ketahanan fisik, anehnya setiap bagian dari kegiatan haji, meskipun terasa adanya kelelahan, tetapi selalu berakhir dengan keindahan, selalu ada kepuasan batin yang dirasakan setiap selesai melakukan aktifitas ibadah haji.
Rasa lelah setelah thawaf di tengah jutaan umat manusia, dilanjutkan dengan sa’i dan tahllul di tengah malam yang dingin terkadang memakan waktu sampai beberapa jam, menjadi tidak terasa setelah tetesan air mata membasahi pipi di bukit Marwah sambil memandang ka’bah yang agung, disertai bibir yang gemetar, lisanpun berucap, ‘Ilahi, Anta Maqshudi. Wa Ridhoka Mathlubi. A’thini Mahabbataka Wa Ma’rifataka. Tuhanku, hanya Engkau yang kutuju, dan hanya ridho-Mu yang kucari. Berikan kemampuan kepadaku untuk senantiasa bisa mencintai dan mengenalimu.
Nikmatnya mengumandangkan kalimat talbiyah sepanjang perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah telah mampu mengusir rasa lelah dan dinginnya angin gurun. Lelahnya berhimpitan di tengah lautan manusia di Mina tidak terasa setelah tujuh kerikil dilemparkan tepat di Jumratul-Aqabah yang menjadi lambang keangkuhan dan kesombongan syetan laknatullah.
Demikian pula di Madinah, nikmatnya bisa duduk di Roudloh sambil berdo'a dengan cucuran air mata tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, meskipun untuk bisa sampai ke tempat itu harus berjuang berdesakan dengan bangsa lain yang postur tubuhnya jauh lebih besar dan kuat. Bahkan di luar paket ibadah haji sekalipun, rasa lelah tidak menyurutkan keingintahuan untuk napak tilas Kekasih Agung Rasulullah SAW.
Meskipun tidak semua peninggalan Rasul dapat dikunjungi, namun bisa mendatangi tempat kelahiran Rasul, tempat kediaman Siti Khodijah, rumah tempat Umar bin Khattab mengucapkan dua kalimah syahadat, Gua Hira, Gua Tsur, Jabal Rahmah, Tan’im, Ji’ranah, Masjid Al-Ghomamah, Pemakaman Baqi’ dan Ma’la semuanya melelahkan. Tetapi di balik lelah itu jelas merupakan satu kebanggan tersendiri. Dan ternyata lelah tidak mampu menghalanginya.
Nikmat dan indahnya ibadah haji bisa dirasakan meskipun dengan persiapan dan kemampuan yang terbatas. Artinya, kalau persiapan lebih baik, maka hasilnya pun akan lebih baik lagi. Idealnya, untuk memperoleh nilai haji yang baik, maka persiapan merupakan satu keniscayaan. Fakta di lapangan menunjukkan masih minimnya jemaah haji dalam persiapan sehingga timbul kesan ibadah haji dilakukan asal jadi. Agar perjalanan haji membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi orang yang melakukannya, kiranya setiap jemaah haji perlu :
1. Menguasai manasik haji, yaitu prosesi ibadah haji sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang dimaksud dengan manasik tentu berbentuk pola yang dicontohkan oleh rasulullah SAW, baik yang menyangkut aqidah, perbuatan, maupun ucapan. Manasik bukan hanya hafal doa thawaf dan sa’i, tetapi lebih dari itu menguasai proses ibadah yang sebenarnya. Akibat tidak menguasai manasik haji, sering terjadi beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi, seperti thawaf melintasi Hijir Ismail, meratap sambil mengusap dinding ka’bah, melontar jumrah dengan sandal dan lain sebagainya.
2. Mempelajari sejarah. Dengan mempelajari sejarah seseorang bisa mengetahui latar belakang sesuatu yang dikerjakannya, sehingga pada saat melakukan satu jenis ibadah akan lebih menghayatinya. Sebagai salah satu contoh adalah betapa banyaknya orang berkulit hitam berdoa di Hijir Ismail sambil menangis. Mereka melakukan itu karena mereka mengerti sejarah. Mereka menyadari bahwa Hijir Ismail dulunya tempat kediaman Nabi Ismail dan ibunya, Siti Hajar, seorang perempuan budak miskin berkulit hitam asal Ethiopia, yang dinikahi Nabi Ibrahim AS atas saran isterinya, Siti Syarah. Mereka bisa histeris karena merasakan bahwa di sisi Allah SWT derajat manusia adalah sama. Seorang budak berkulit hitam pun bisa mencapai kedudukan terhormat kalau memiliki taqwa yang baik. Di luar prosesi ibadah haji juga bisa dilihat ribuan, bahkan ratusan ribu umat Islam meneteskan air mata ketika mereka menziarahi pekuburan syuhada Uhud. Mereka bisa menangis karena mereka mengerti sejarah. Betapa umat Islam nyaris kehilangan pemimpin agung, Rasulullah SAW saat umat Islam diporakporandakan pada perang Uhud. Dan masih banyak lagi contoh yang lain.
3. Membekali diri dengan pengetahuan tentang Mekah dan Madinah serta tempat-tempat lain di sekitarnya. Pesatnya perkembangan pembangunan di kedua kota tersebut akan membuat jemaah menjadi bingung. Jangankan orang yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji, para pembimbing haji pun banyak yang tersesat. Kenyataan ini juga diakui oleh mereka. Jadi tersesatnya jemaah haji di tanah suci merupakan sesuatu yang wajar. Malah di dalam Masjidil Haram sekalipun banyak jemaah yang keliru pintu kalau akan keluar. Kondisi diperparah dengan sifat enggan bertanya sehingga banyak kejadian di tanah suci dipandang dari sisi negatifnya. Umumnya jemaah haji suka terkena sugesti. Kalau mengalami sesuatu yang bersifat negatif kemudian cepat berkesimpulan bahwa hal itu gambaran amalnya waktu masih di kampung halamannya, sehingga akibat dari sugesti itu banyak jemaah yang memandang bahwa ibadah haji adalah satu kewajiban yang menakutkan.
4. Menguasai bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris. Perlu disadari bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif. Banyak orang akan kehilangan peluang jika tidak menguasai bahasa. Di Masjidil Haram, pada setiap selesai sholat fardhu terdapat sejumlah jemaah yang berkumpul, ternyata mereka sedang mengadakan ta’lim. Bahasa pengantar yang paling populer mereka gunakan adalah bahasa Arab dan Inggris. Manfaat besar tentu akan bisa diraih jika setiap jemaah haji membekali diri dengan penguasaan kedua bahasa asing tersebut. Bahkan untuk berbelanja di pasar sekalipun banyak jemaah yang tidak menemukan barang yang diperlukannya karena tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Belum lagi kalau kita bersilaturahim dengan jemaah bangsa lain.
Alhasil, keempat komponen di atas adalah sesuatu yang mutlak diperlukan oleh setiap jemaah haji kalau ingin mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dalam perjalanan ibadah haji. Dan mempersiapkan keempat komponen tadi tidak cukup dipelajari hanya dalam jangka waktu satu atau dua minggu. Akan lebih baik kalau ada satu institusi yang mengkaji secara khusus masalah haji yang dilakukan secara komprehensif, dan setiap jemaah yang sudah menentukan akan berhaji perlu merasa berkepentingan dengan kajian tersebut.
Gapailah derajat haji mabrur dengan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ibadah haji adalah kewajiban umat Islam sekali dalam seumur hidup. Kalau tidak dilakukan dengan baik, belum tentu dapat diulangi pada tahun-tahun berikutnya.
KotaSantri.com © 2002-2026