
Pelangi » Percik | Jum'at, 8 Juli 2011 pukul 11:22 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Betapa IA memberikan kebaikan pada kita dengan begitu berlimpah. Namun anehnya, kerap kali sebagian dari kita melewatkan begitu banyak kebaikan, tidak memilih menjadi dan pada yang baik-baik saja. Padahal, begitu banyak sarana untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan itu. Pun, begitu banyak jalan untuk kita tetap pada kefitrahan diri; menjadi manusia baik.
Bukankah pula telah dikabarkan, bahwa tipu daya setan itu amat lemah? Maka, tak seharusnya kita tertipu, pada hakikat diri dan hati, yang telah diciptakan cenderung kepada kebaikan. Itu artinya, menjadi baik adalah wajib bagi setiap muslim. Karena memang seharusnya begitu, bahwa setan tak kan pernah bisa menggoda setiap siapa saja yang keimanannya masih menghujam di dalam dada. Sebab, refleksi keimanan dalam tutur dan laku tak lain adalah takwa.
Kalau laiknya demikian, maka arah perhatian kini kemudian ditunjukan pada pengendalian diri. Ya, muslim itu hidupnya mengendalikan. Agar semua tepat di tengah-tengah dengan istilah keren yang sering kita dengar adalah tawazun. Tak berlebihan dalam banyak hal, pun tidak kikir.
Mengendalikan. Tak mudah memang. Namun bukan berarti gagal dilakukan. Karena tak mudah, makanya dinamakan perjuangan. Maka, mari berjuang kawan!
Betapa kuatnya orang yang bisa mengendalikan diri. Sosok tangguh beruhiyah prima. Bahkan dalam sebuah sabda Nabi SAW, marah menjadi contoh bagaiamana ‘derajat’ pengendalain diri. “Orang yang paling kuat di antara kamu adalah orang yang ketika dalam keadaan marah dan mampu meluapkan amarahnya, namun ia lebih memilih menahan,” demikian tegas Nabi SAW. Masya Allah… luar biasanya mengendalikan diri itu.
Pertanyaan kemudian, bagaimana cara kita mengendalikan diri pada tiap tempat, waktu, dan keadaan? Maka kini, saatnya ikhsan melakukan pekerjaannya. Bahwa jika kita tak mampu (merasakan) ‘melihat’ Allah, pikirkanlah bahwa Allah pasti melihat kita. Tak ada yang kelewat dari penglihatanNya, walau hanya sekejap mata. Di sini, kesadaran muraqabatullah (merasa diawasi Allah SWT) menjadi keniscayaan. Hingga pada akhirnya, kejujuran pada diri sendiri dan Sang Maha Melihat mengejawantahkan.
Dari sini, saatnya memasukan rasa malu. Yang kemudian dapat dipahami secara nyata. Hanya orang yang miskin iman (atau bahkan tak punya iman) yang tak tahu malu. Karena antara iman, ikhsan, pengendalian diri, dan malu adalah jenak-jenak tanda pembeda manusia dengan potensi jasadiyah, fikriyah, dan ruhiyah dengan binatang dan makhluk lain ciptaanNya.
Menjadi baik, adalah serangkaian proses keshalehan yang berakhir pada kata akhlaq. Dan akhlaq, adalah konsep dari kerasulan Muhammad SAW, bahwa seperti yang pernah disabdakannya, beliau SAW diutus untuk menyempurnakan akhlaq.
Begitu indah dan tertatanya jalan-jalan kebaikan, begitu melimpah ruahnya kebaikan-kebaikan yang ada. Dan begitu meruginya jika kita tak menjadi baik, di hidup yang hanya satu-satunya dan sekali-kalinya ini.
KotaSantri.com © 2002-2026