
Pelangi » Percik | Jum'at, 13 Mei 2011 pukul 10:10 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Semestinya dengan menikah, kita akan lebih bisa mendahsyatkan diri. Menjadi lebih baik dari ketika sendiri, yang tolak ukurnya adalah peningkatan kedewasaan dan daya tahan.
Pun, dengan menikah, harusnya membuat kita semakin shalih dan shalihah, karena penggenapan agama telah sempurna diterima. Maka, menjadi alasan logis jika kemudian aroma cintaNya semakin pekat tercium di kehidupan.
Namun, begitu banyak contoh kasus, menikah hanya sebuah proses perpindahan dari sendiri menjadi berdua. Dan semuanya tetap berjalan seperti biasanya, stagnan. Atau yang lebih parah, malah menikah tak membuatnya menjadi lebih baik dari sebelumnya, justru rasa bahagia dan bebas berbuat dirasa ketika masih menikmati hidup seorang diri.
Lalu, yang mana kita nantinya?
Jika menikah adalah ibadah, seharusnya itu menentramkan batin. Jika menikah adalah penopang kukuhnya kaki-kaki kita menapak pada kebenaran dan banyak kebaikan, seharusnya itu menjadi berkah. Jika menikah adalah sunnatullah, maka pemaknaan itu menjadi keniscayaan tergantung kita, mau dimaknai seperti apa. Karena di situlah pembeda antara diawal, proses, dan akhirannya.
Menikahlah, maka rezeki Allah akan turun kepadamu. Menikahlah, maka jalan-jalan maksiat akan tertutup untukmu. Menikahlah, maka pintu-pintu fitnah akan menjauh darimu. Menikahlah engkau segera, jika saatnya telah tiba.
KotaSantri.com © 2002-2026