
Pelangi » Percik | Selasa, 8 Maret 2011 pukul 11:22 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Merebahkan penat di indahnya pekat malam, menikmati kesendirian dengan lantunan kalamNya, menelusuri tasbih-tasbih hati, diiringi aroma teh melati yang beberapa saat kemudian ternikmati sensasi rasa menghangatnya.
Allah, Engkau ada dan Maha Melihat. Pun, Maha Mengurus. Tak ada ceritanya menyisakan ruang kebetulan pada apapun kisah yang menjadi takdir hidup.
Beruntunglah orang yang selalu mampu menghisab dirinya sendiri. Pun, ketika berbuat salah, segera menyadari kesalahan, bertobat, dan semakin mendekat pada yang Mahadekat.
Beruntunglah orang yang mampu memaknai semua hal yang ia dengar dan ia lihat dengan sebaik-baik pemaknaan. Dengan pemaknaan yang membuat ia semakin menjadi baik. Memberikan respon terbaik yang menghantarkannya mampu semakin mendekat pada RabbNya.
Beruntunglah orang yang sebab kebaikannya, telah disebut-sebut oleh Allah SWT di hadapan Malaikat pada rasa cintaNya, sehingga seluruh penduduk langit mencintainya, pun demikian penduduk bumi turut serta.
Beruntunglah, orang yang selalu dalam petunjukNya.
Di hari-hari ini, ketika begitu banyak kisruh atas nama agama menjadi fokus dan diekploitasi besar-besaran, sengaja mendengar dan membaca beberapa statement dan komentar manusia yang di masyarakat berjuluk tokoh serta orang penting, baik yang pro dan kontra, cukup membuat siapa saja berkali-kali menarik nafas panjang.
Mereka dan setiap kita telah mengisi tempat masing-masing di masa-masa saat ini, yang memang sudah jelas termaktub dalam kitabNya hanya tinggal dua pilihan tempat; golongan kanan dan golongan kiri. Sebab satu golongan mulia yang Allah menyebutnya golongan awal telah berlalu masanya.
Dan golongan kanan, merekalah golongan yang mendapat petunjukNya lagi beruntung. Sementara jelas golongan kiri adalah golongan sesat lagi merugi.
Namun saat ini, bukan pada itu yang menjadi perhatian, melainkan pada hakikat pemaknaan. Bahwa, ya, kita marah ketika ada satu atau sekelompok individu yang menistakan Ad-Dien mulia ini. Bahwa, ya, kita tidak akan membiarkan pengikut Nabi palsu mengobrak-abrik aqidah ummat ini. Namun, apakah cukup berhenti sampai di situ?
Penegasan pertanyaan; Tidak terima dengan yang mana? Tidak terima dengan penistaan agama mulia ini? Marah pada siapa? Marah pada Ahmadiyah yang membawa ajaran baru untuk agama sempurna ini? Kiranya menjadi sisi-sisi lain yang akan memberi makna berbeda dengan efek pemaknaan bermula dari diri sendiri, kemudian mereduksi ke orang-orang sekitar.
Agama mulia? Seberapa mulia bagi kita? Seperti apa selama ini kita memuliakannya? Benarkah kita telah memuliakan Islam seperti yang seharusnya?
Agama sempurna? Seberapa sempurna kita memaknainya untuk kehidupan? Seberapa banyak kita mengerti kesempurnaannya?
Mari evaluasi lebih detail lagi pada diri kita, bagaimana kita memperlakukan agama mulia ini? Benarkah telah sempurna merengkuh semua aspek kehidupan kita? Ataukah hanya kita letakkan di sudut-sudat Mushala. Baru teringat kalau kita muslim/mah hanya ketika datangnya waktu shalat, hanya ketika tangan kita menyentuh mushaf Al-Qur'an.
Kita tidak terima ketika Islam dinista. Tapi sepertinya kita harus lebih tidak terima dengan sikap diri sendiri, karena kita pun tak pernah mampu merefleksikan bahkan memaknai Islam sebagai agama mulia untuk kehidupan kita pribadi. Kita marah ketika Islam diselewengkan ajarannya. Tapi sepertinya kita harus lebih marah pada diri sendiri, di usia yang sudah baligh ini, masih terlalu sedikit ajaran Islam yang kita ketahui, dan dengan ringannya berlindung di balik kata "awam" sebagai pembelaan bahkan pembenaran sikap kita yang hanya sekedarnya atau bahkan tak pernah mau ngaji (baca : belajar syari'at Islam).
Barangkali, inilah caraNya mengingatkan kita. Islam dinista agar kita tersentak dan sejenak berhenti, mencari kesadaran tentang mulianya Islam, yang terselip di antara banyak pikiran keduniawian. Maka, mari sejenak berhenti, mengevaluasi tentang bagaimana sikap kita selama ini pada Islam. Benarkah kita telah memuliakannya dengan sebenar-benarnya pemuliaan seperti yang dikehendakiNya?
Barangkali, inilah caraNya mengingatkan kita. Islam diselewengkan ajarannya untuk menarik perhatian kita yang kurang perhatian bahkan tak perhatian, agar kita berpikir tentang kesempurnaan ajaran Islam yang tak perlu ditambah apalagi dikurangi. Kemudian tertunduk dalam malu, karena ternyata masih banyak yang belum kita ketahui tentang ajaran agama sempurna ini.
Ternyata begitu banyak hal yang mampu menyibukkan kita, untuk detail menilai diri sendiri. Di sinilah kemudian mulai dimengerti kenapa seseorang yang sibuk mengurusi (aib) dirinya sendiri, ia tak kan pernah punya waktu untuk mengurusi (aib) orang lain. Karena pada kenyataannya, terlampau banyak hal dari diri, yang harus dinilai, dievaluasi, dibenahi, dan dijadikan baik.
Wallahu a'lam bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026