
Pelangi » Percik | Sabtu, 4 Desember 2010 pukul 01:00 WIB
Penulis : Meyla Farid
Percekcokan yang terjadi antara dua orang, biasanya karena masalah harapan mereka yang tidak bertemu benang penghubungnya. Biasanya, kita selalu berharap yang terbaik dari orang lain. Contoh kasus di awal yang saya tuliskan, yaitu pertengkaran antara 2 orang manusia. Tidak lain dan tidak bukan, penyebab pertengkaran pastilah karena yang satu kecewa terhadap yang lain. Si A, berharap temannya B akan bersikap 'begini'. Ternyata B bersikap 'begitu'. Lalu di pihak B sendiri, dia berharap A akan bersikap pengertian, ternyata tidak. Kedua orang tersebut terjebak dalam kekecewaan satu sama lain. Dua-duanya hanya memikirkan 'harapan' diri sendiri terhadap orang lain. Dua-duanya hanya memikirkan kekecewaan yang mereka terima dari orang lain.
Pernah tidak, saat kita merasa kecewa karena orang lain, dalam waktu yang sama kita pun menyadari mungkin saja orang itu pun kecewa dengan sikap kita. Kita kecewa, dia kecewa. Saling mengecewakan. Kalau kita memandang kekecewaan sendiri saja, percekcokan adalah hasilnya. Tapi coba menerima kenyataan, bukan hanya kita saja yang kecewa, orang lain pun sama. Dengan berpikir demikian, insyaAllah kita bisa memahami kenapa kita kecewa. Intropeksi diri saja.
Sebaiknya jangan berharap orang lain akan mengerti tindakan kita. Sama seperti kita tidak tau kondisi sebenarnya seseorang, orang lain pun tidak tahu kondisi kita yang sebenarnya. Apa kita sedang sakit, tidak mood, banyak masalah dan sebagainya. Lalu kita berharap orang lain mengerti? Sementara di lain pihak, orang pun berharap kita bisa lebih menghargainya, mengerti keadaannya juga. Keduanya saling berharap pengertian dari temannya. Akibatnya,dua-duanya kecewa di saat yang sama.
Kenapa tidak begini saja : kita coba mengerti keadaan orang lain. Berbuat yang terbaik untuk menjadi teman orang lain. Selain kita tidak perlu kecewa karena harapan kita tidak terpenuhi, kita juga bisa berlatih untuk lebih peka dengan kondisi orang lain. Percik api perselisihan pun bisa dihindari.
Semua amal perbuatan anak Adam akan kembali ke dirinya masing-masing. Jadi tidak perlu khawatir, memenuhi harapan saudaramu otomatis menabung amal kebajikan untuk dirimu sendiri, di sisi Allah SWT. Yuk, belajar lebih peka. Tidak egois dan memikirkan harapan diri sendiri saja. Termasuk si penulis, minta do'a dari semuanya agar bisa mewujudkan amalan ini. aamiin ya Rabb al 'aalamiin...
KotaSantri.com © 2002-2026