Pelangi » Percik | Jum'at, 15 Oktober 2010 pukul 18:11 WIB

Agar Tak Hanya Tumbuh Sekedarnya

Penulis : Rifatul Farida

Karena aku tak kan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, maka janganlah bertanya hidupku esok akan bagaimana. Tapi kau boleh sekedar mengintip proposal hidupku, yang telah mengusam di pelataran asa.

Seandainya pagi ini adalah pagi terakhir untukku, maka aku tak kuasa sedikit pun tuk menjadikan pagi yang tidak terakhir, karena semua yang ada tetap akan tunduk pada titah takdir, dan aku hanya tinggal menjalaninya. Itulah kenyataan yang tak dapat dipungkiri, ya, menjalani takdir.

Maka lihatlah kesungguhan ini, bahwa aku benar-benar ingin menjadikanNya sebagai perhatian utama, pada setiap gerak, sikap, dan keputusan hidup. Meski komitmen ini sering tergelincir, sebab ego yang tetap menghebat.

Sungguh, hal itu memang benar, bahwa IA tak kan membiarkan siapa pun mengatakan beriman, kecuali IA akan mengujinya. Dan pantas saja, kalau derita tak terkira pernah ditimpakan pada para RasulNya. Karena begitulah caraNya menempa keimanan, agar tak hanya tumbuh sekedarnya apalagi alakadarnya. IA menginginkan keimanan yang kokoh, yang tak mudah dihempas badai sebesar dan sekencang apapun.

Kenapa demikian? Karena dengan kekokohan iman ini, setiap niatan hati akan menemukan kejelasan tujuan, bahwa persembahan terbaik dari kehidupan hanya untukNya. IA-lah yang terbaik dan hanya menerima yang baik-baik. Maka selayaknya, menjadikan IA tetap yang terbaik di hati dan hanya satu-satunya, tak menduakanNya, tak menyamakanNya.

Duhai yang memiliki segala puji, betapa sesungguhnya kami terlampau tak tahu diri, dengan keakuan ini, sementara jelas bahwa hidup ini, mati ini, ibadah ini hanyalah untukMu. Maka ampunilah segala khilaf diri, yang dalam banyak hal sering tak menyadari tentang kekerdilannya di hadapanMu. Aamiin.

KotaSantri.com © 2002-2026