
Pelangi » Percik | Jum'at, 27 Agustus 2010 pukul 18:00 WIB
Penulis : Meyla Farid
Siapa bilang saat Ramadhan semua hawa nafsu kita ikut dipenjarakan laksana pasukan syetan yang dibelenggu? Amarah, emosi, nafsu menghujat orang, berghibah, memakan makanan yang berlebihan, berbuat iri, dan mendzalimi. Nyatanya, tindakan-tindakan itu tetap ada di bulan yang penuh hikmah ini.
Sayang, andai semua insan menahan diri dari berbuat hal-hal sedemikian. Tapi nyatanya, ketika melihat 'kelemahan' orang lain yang terbongkar, sebagian besar kita masih saja 'riang' dan ramai menggosipkan. Mencela. Seolah diri kita sendiri sudah bersih sama sekali dari aib dan dosa. Padahal andai kita jujur pada diri sendiri, hanya kasih sayang Allah yang menutupi aib-aib diri. Namun mengapa saat aib orang lain terbuka, kita bersikap seolah tidak memiliki satu aib pun yang apabila terbuka ke khalayak akan membuat diri kita malu seperti orang lain yang terbuka aibnya itu.
Mengapa saat melihat kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada orang lain pun, kita bersikap seolah Allah tidak memberikan kita apa-apa. Oh. Hanya timbangan dunia yang kita gunakan ternyata. Sehingga saat itu terjadi, kita menjadi iri dan merasa perlu untuk segera 'menjatuhkan' mereka yang sedang berbahagia.
Andai saja semua orang, dari lingkungan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, sampai Negara ini dapat menahan diri dari godaan hawa nafsunya sendiri. Menahan lisan ketika ingin membuka aib orang secara berlebihan. Menahan tangan ketika ada hasrat untuk berbuat kerusakan. Andai saja semua orang berusaha sekuat tenaga untuk hidup tentram dan saling memaafkan, itulah makna Ramadhan yang kita dambakan.
KotaSantri.com © 2002-2026