
Pelangi » Percik | Jum'at, 2 April 2010 pukul 18:05 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Mengawali cerita di pucuk-pucuk hujan. Menyambut baik setiap pergiliran rasa. Mengemas rapi gundah pada kantung-kantung ketenangan. Menjalani setapak demi setapak dalam guratan-guratan takdir. Ikuti prosesnya, nikmati setiap anugerah dengan kesyukuran tak terkira.
Memerankan setiap skenario dengan kemantapan keyakinan, akan kebaikan-kebaikan hidup yang muaranya hingga akhirat. Karena ungkapan klasik pada hakikatnya tetap menjadi rujukan valid, bahwa dunia adalah panggung sandiwara.
Mengulang kembali kisah-kisah di masa lalu, yang diperankan oleh orang-orang terdahulu, dalam bentuk berbeda, dengan versi yang berbeda pula. Namun muatan isi tetaplah sama. Dan setiap kita mendapatkan bagian-bagian peranan itu.
Menelisik lebih dalam tentang gerak kehidupan, yang ternyata hanya pengulangan-pengulangan kejadian demi kejadian. Dan tak perlu meraba lagi. Karena Allah yang Mahatahu telah memberikan petunjuk dalam kesucian Al-Qur'an. Kitab panduan yang telah membentangkan berbagai kisah kehidupan orang-orang terdahulu. Selami, dan ambil taburan hikmahnya. Itulah pengetahuan yang terjaga keasliannya meski hanya satu huruf. Agar setiap kita tepat memainkan peranan.
***
rf_yang meyakini bahwa kehidupan itu ladang amal
KotaSantri.com © 2002-2026