Pelangi » Percik | Jum'at, 5 Maret 2010 pukul 17:15 WIB

Karena Ada Makna di Baliknya

Penulis : Rifatul Farida

Mensemayamkan sebuah rasa yang pernah menggejolak hebat. Saatnyakah menggeser asa itu dengan hadirnya karakter lain yang harus diterima? Sementara pernah terukir dalam judul hidup "apa adanya" bukan kamuflase dalam rentang waktu yang lumayan lama. Dan ternyata masih saja belum dan belum dalam kata kesiapan.

Masih banyak yang harus dibenahi di sana-sini. Dalam targetan skala prioritas yang mencenungkan pikiran. Bukan karena tak ingin berubah, tapi lebih pada makna perubahan dengan tunggangan tanya; Bahagiakah dengan berubah? Ikhlaskan menepikan semua selera keinginan pribadi dalam perwujudan altruistik? Itukah pada akhirnya hidup yang sebenarnya?

Dan ternyata, memang masih banyak yang harus dibenahi di sana-sini. Bukan hanya sekedar ingin dalam hitung-hitungan hembusan nafas yang telah menunjukkan angka besar. Namun memulai sebuah peradaban duniawi yang berkelanjutan hingga ukhrawi. Karena ada makna di baliknya yang harus didapatkan, yang akan memaknai setiap gerak dan rasa menjadi keberkahan luar biasa.

Adakah yang kini akan disampaikan lagi dalam kesendirian ini? Ketika semua hal yang ada di hadapan hanya mengulang kejadian di masa lalu, meski dengan versi yang berbeda. Dan pada saat-saat yang kurang kondusif, ternyata jemu mampu menyelusup ke relung hati paling dalam. Sangking dalamnya, hingga tak ada yang tahu apa lagi merasakan kecuali diri sendiri.

Pengulangan, seharusnya mampu membawa keberkahan ketika itu adalah sebuah kebaikan. Dan pada fakta jelasnya yang terjadi, tidak selalu begitu. Mengapa? Apakah karena mungkin manusia memang tak mampu lepas dari sifat berkeluh kesah sehebat apapun ia? Ataukah mungkin ada yang salah dengan cara pandang dan niatan yang ada di hati? Wallahu a'lam.

Yang jelas, hidup tak pernah mengenal kata jeda. Dan setiap apa yang ada di dalamya harus tetap bergerak, dalam pergerakan menuju titik pasti, kematian.

KotaSantri.com © 2002-2026