
Pelangi » Percik | Jum'at, 27 November 2009 pukul 17:40 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
Apa salahnya diam? Melihat ke dalam diri, jangan hanya mencari pembenaran. Kasak-kusuk kanan-kiri mempertanyakan sesuatu yang membosankan. Jangan membuat persepsi baru yang membuat ambigu orang-orang yang tak tahu. Bersikap wajar apa salahnya? Dewasa membaca hati nurani.
Ternyata... Umur bukan ajang mengukur kedewasaan. Pendidikan tak menentukan kepribadian. Jangan menuntut pembenaran, tanpa bercermin pada diri. Mendandani kata berdalih persahabatan. Karena sebuah persahabatan tidak menuntut pembenaran. Ia akan tumbuh dari sikap yang wajar.
Sudahkah mencoba melihat bening air dalam kolam? Air diam tenang yang tiba-tiba dilempari batu. Ia akan menimbulkan riak, guncangan kencang saat tenangnya tersakiti batu. Meski beberapa saat riak secara perlahan-lahan menghilang, tapi batu tetap ada, tak bisa hilang dari dasar kolam.
Atau, sudahkah membaca kisah Wahsyi RA? Salah seorang sahabat yang hidup di jaman Rasulullah SAW. Sahabat yang berjasa membunuh orang terjahat pemimpin kaum murtad Yamamah "Musailamah Al-Kazzab" setelah ia memeluk Islam.
Namun, ia pula yang membunuh paman tercinta Rasulullah bernama Hamzah saat perang Uhud, sebelum masuk Islam. Meski Rasulullah SAW tidak membenci Wahsyi yang telah berikrar dalam Islam, namun beliau memberikan wasiat kepadanya. "Jangan engkau menunjukkan wajahmu di hadapanku." Karena setiap melihat wajah Wahsyi, akan terbayang pula wajah Hamzah mati menggenaskan.
Sesuatu yang terlanjur dilemparkan secara menyakitkan, perlu waktu untuk menghilangkannya. Seperti air kolam yang dilempari batu, ataupun seperti hati lembut Rasulullah yang teriris pilu, mungkin seperti itu pula hati nurani yang masih terasa.
KotaSantri.com © 2002-2026