Pelangi » Percik | Selasa, 3 November 2009 pukul 17:15 WIB

Menikmati Perjalanan

Penulis : Meyla Farid

Saat kaki ini berjalan di atas kerikil-kerikil tajam, terkadang setetes darah segar mengalir dan membasuh telapak kaki yang mungil. Terkadang bibir bergetar, meneriakkan kesakitan dan keluhan. Terkadang hati menjadi tipis setipis kabut di pagi hari yang mudah terburai dan bisa lenyap begitu saja ketika siang hari datang. Hati yang hidup, bisa tiba-tiba berpenyakit dan mungkin malah menjadi mati.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Hanya perjalanan dan pengalaman hidup serta pengaruh orang-orang di sekitarnyalah yang akan membentuk dia menjadi manusia seperti apa. Namun di atas semua aspek yang bisa mempengaruhi manusia itu, Allah telah memberikan kita nikmat berupa akal, pikiran, dan hati. Inilah hal yang dapat menyelamatkan kita.

Saat badai datang, tetaplah tegar karena itu adalah untuk kebaikan kita juga. Saat usaha-usaha kita untuk mencapai cita-cita menemukan rintangan yang tajam, tetaplah berusaha memegang mimpi. Karena semua rintangan itu pun baik untuk kekuatan jiwa kita. Hampir semua (atau semua) orang yang sukses selalu memulai 'usahanya' dari bawah. Bahkan seorang Bill Gates, memulai bisnis raksasanya itu dengan menjadi seorang programmer seperti kebanyakan orang.

Yang membedakan seseorang dengan orang kebanyakan adalah keyakinan akan mimpinya, kerja keras, dan keteguhan hatinya dalam menghadapi semua rintangan. Semua itu diperlukan agar kita bisa menghargai setiap orang yang berjasa dalam hidup kita, sekaligus agar kita tetap berlatih untuk selalu rendah hati dan mengakui kekurangan diri. Menyadari kekurangan diri, ternyata sangat diperlukan untuk terus membangkitkan semangat kita, agar selalu ingin menjadi lebih dan lebih baik lagi.

Di balik kekurangan, pasti ada kekuatan. Di balik kesulitan, pasti ada kemudahan. Semua rintangan akan selalu kita perlukan, agar bila saatnya keberhasilan itu tercapai, kita bisa lebih siap untuk bertahan.

Wallahu a'lam.

KotaSantri.com © 2002-2026