
Pelangi » Percik | Selasa, 25 Agustus 2009 pukul 18:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Mengistirahatkan jiwa ini, tuk laju lagi melesat. Segarkan naluri dan nurani. Dalam hening biarlah dzikir membisik. Tundukkan kepongahan diri, pada gurat-gurat laku yang pernah tercipta. Menata ulang setiap letak niatan hati, menempatkannya pada sekeping kayakinan tentang muara ridha dan pertolonganNya.
Ada yang ingin sejenak bersandar, merebahkan kepasrahan lewat pucuk-pucuk ikhtiar. Agar tak ada lagi rasa takut melangkah, merunut takdir yang tak jarang meletupkan emosi hati. Kala kesadaran menghempas keraguan yang bebas menelusup dalam jiwa, dan seulas senyum pun merekah bahagia, hadirkan keyakinan akan jaminan serta janjiNya.
Masih dalam hening, ketika lirih nurani menggetarkan irama dari bagian rasa yang melembutkan kalbu. Merukukkan ego ini, menyujudkan nafsu ini. Lunglai bersimpuh melepas lelah dan beban jiwa. Bebaskan segala spekulasi hari esok dalam hitung-hitungan logika akal.
Tentang jiwa ini, yang sering menggejolak tanpa tahu nadanya. Sementara tiap bulir mahabbah lahir dari irama jiwa yang seharusnya mengalunkan simfoni indah nan lembut dalam ketenangan dan keteraturan gerak. Agar mahabbah itu mampu menghidupkan, menuluskan, mempercayakan, memasrahkan, dan akhirnya membagiakan dalam raut keceriaan.
Mengistirahatkan jiwa ini, dalam muhasabah biarlah semuanya bermula di sini kembali. Di niatan yang mentawadhu’kan laku, di kepasrahan yang percaya kebaikkan setiap takdirNya, di bagian rasa yang melembutkan kalbu.
KotaSantri.com © 2002-2026