
Pelangi » Percik | Selasa, 11 Agustus 2009 pukul 17:21 WIB
Penulis : Nurliyanti
Lidahku kembali hitam karena kuas pembersih itu telah lenyap. Ia telah berubah menjadi palu godam yang sukses meremukkan hatiku. Perlu waktu lama untuk kembali menyusun kepingan demi kepingan puzzle hati ini.
Semua terjadi karena ulah dia! Si kecil, merah kusam, tanpa tulang belakang. Dia yang berani menghujam ribuan panah dalam satu tembakan. Dia juga yang tega menghancurkan jaring kepercayaan. Tapi dia juga yang sanggup mengoles luka dengan sejuta kasih sayang.
Ibarat madu, ia bisa mendatangkan kupu-kupu elok, anggun nan rupawan. Tapi bisa juga mengundang tawon dengan sengatnya yang mematikan! Seperti pedang, ia bisa menangkis serangan dan melindungi kita. Tapi ia juga bisa menikam dalam sekali tusuk! Layaknya angin, ia bisa membelai kita dengan terpaannya yang lembut, namun bisa juga menjelma jadi topan yang mengangkat pohon besar hingga sang akar tercabut!
Dahsyat bukan?
Ah, mengapa begitu besarnya pengaruh si mungil ini? Apa yang membuatnya sedemikian tangguh? Apa karena ia dimiliki oleh setiap insan? Apa karena keberadaannya nyaris tak terlihat pandangan? Padahal ia hanya sebuah lidah, teman. Lidah…
Tak bisa dipungkiri, lidah kita sangat berharga. Tanpanya, dunia ini bisa hampa. Takkan ada untaian tegur sapa. Takkan ada lantunan merdu dari tiap penggubah syair. Takkan ada celotehan yang ikut meramaikan kicauan alam.
Tapi lidah kita amat berbahaya! Karenanya, tali silaturrahim bisa putus. Karenanya, senandung puja-puji bisa berubah menjadi seruan caci maki! Mengapa? Karena incaran dari lidah hanya satu, yaitu hati.
Dan perlu diwaspadai, jika hati telah tersakiti, dan penyakit hati mulai menggerogoti iman kita, ujung-ujungnya kita bisa gelap mata. Bukan akal yang akan bertindak, tapi hawa nafsu!
Fakta yang berbicara. Berapa banyak perkelahian yang berawal dari lidah? Berapa banyak tindak pembunuhan yang dimulai dari lidah? Sepele kan?
Karena itu, mulai dari sekarang, kita belajar menjaga si kecil berwarna merah ini. Kita pergunakan di jalan yang benar seperti berdakwah, berdzikir, mengaji, dan lainnya. Ingat, luka di hati sulit dicari obatnya. Makanya kita kontrol dia agar tak ke luar jalur. Syukur-syukur bisa terus melaju dengan mulus sampai pemberhentian terakhir hidup ini.
Teruntuk seseorang, maafin kesalahanku ya.
Wish you all the best!
Rabu, 01 Juli 2009
KotaSantri.com © 2002-2026