
Pelangi » Percik | Selasa, 14 Juli 2009 pukul 18:00 WIB
Penulis : Moch.Badri Tamam
Dunia, seperti halnya makhluk Allah yang lain, tak ada yang abadi. Dunia layaknya sebuah komidi putar, hanya sebuah permainan belaka, bila kita tidak menginvestasikan dunia tersebut ke jalan Allah. Para pencari dunia yang tidak mengetahui bahwa dunia adalah sebuah permainan belaka, akan terus bermain dan bermain, bahkan bisa berbalik, mereka sendiri yang akan dipermainkan oleh dunia, menjadi budak bagi dunia, hingga pada akhirnya, mereka menjadi "tumbal" bagi dunia.
Kita sadar, kita hidup di dunia, dunia yang fana, tapi kadang kita tidak sadar, bahwa dunia itu fana, tak abadi. Kalau sudah begitu, kita mungkin bertanya-tanya, akan ke mana kita setelah dunia ini berakhir? Apakah berakhir begitu saja? Tubuh terbalut kain kaffan? That's it? Jawabannya, "Tidak!" Ada kehidupan lain setalah dunia ini berakhir, kehidupan yang hakiki, abadi, dan tak pernah ada akhirnya, yaitu akhirat.
Akhirat adalah tempat di mana semua manusia, jin, akan dimintai pertanggungjawabannya, apa yang telah diperbuatnya waktu hidup di dunia, baik buruknya amal kita. Di sanalah kita akan sadar, betapa dunia yang pernah kita tinggali adalah fana. Pun para pencarinya. Kita akan menyadari bahwa dunia itu hanyalah permainan belaka. Contoh kecil saja, ketika kita lapar, kita akan makan, kemudian kotorannya kita buang, kemudian kita lapar lagi, terus begitu dan begitu sampai ajal kita tiba.
Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, "Adakah dunia yang abadi?" Jawabannya, "Ada!" Dunia yang abadi adalah dunia yang di dalamnya mengandung nilai-nilai ibadah, dunia yang diprioritaskan hanya hanya kepada jalan Allah. Kalaupun kita lapar, kemudian kita makan, tapi di dalamnya terkandung nilai-nilai ibadah, seperti untuk meningkatkan tensi ibadah kita, maka insya Allah dunia seperti itu yang akan abadi.
Dan pada akhirnya, kita dihadapkan pada dua pilihan, dunia mana yang akan kita pilih? Apakah dunia yang "hanya" jadi permainan saja? Atau dunia abadi yang di dalamnya tersimpan nilai-nilai ibadah?
KotaSantri.com © 2002-2026