Pelangi » Percik | Jum'at, 3 Juli 2009 pukul 17:30 WIB

Perjalanan Hidup

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Marilah sejenak kita renungkan perjalanan hidup kita.

Saat mata tertutup untuk terakhir kalinya, saat itulah hidup kita dimulai sebenarnya. Malaikat menuntun menuju liang lahat, dan Mungkar Nakir muncul dengan seribu baris tanya di kepalanya. Mungkin seratus tahun, mungkin sampai ribuan tahun, kita ditanyai dan diinterogasi. Di ruang sempit itulah kita mendapat balasan awal atas apa yang kita kerjakan selama hidup.

Sangkakala berbunyi dan seluruh makhluk mati. Sangkakala berbunyi kembali dan seluruh manusia bangkit serentak. Riuh rendah hiduk pikuk hari itu, manusia kebingungan seperti mengantri BLT. Saat itu, kembali kita menuai apa yang kita sisihkan selalu di dunia, apakah baik atau buruk. Manusia beruntung merasa sejuk dan tenang, manusia rugi merasa kepanasan dan berlarian kebingungan. Hanya orang-orang yang benar-benar terpilih, menemui Rasulullah dan mendapatkan air dari telaga Muhammad.

Menunggu waktu, entah ribuan tahun entah ratusan ribu, manusia digiring pada timbangan kehidupan, menimbang laku selama hidupnya. Hiruk pikuk semakin terasa saat satu persatu manusia mendapat jatahnya mengambil rapor kehidupan. Diambil dengan tangan kiri berarti buntung, dengan tangan kanan beruntung. Manusia berduyun duyun menuju jalan setapak, jembatan tanpa terlihat ujungnya, menuju kehidupan sesungguhnya – surga atau neraka, saat itulah satu persatu manusia terjatuh ke lubang tanpa ujung – lubang panas yang menyala-nyala.

Seseorang terduduk di sudut jalan saat seorang lain berjalan sambil lalu. Yang terduduk tertunduk dengan buku di tangannya, sementara yang berjalan mengernyitkan dahi terheran-heran.

“Apa yang kau lakukan, Fulan?”

“Aku menyesal, dulu aku tak sempat mengadakan pengajian, sementara waktuku cukup dan tenagaku melimpah. Hari ini aku menyesal, hari ini aku menangis sejadi-jadinya. Tapi itu semua tak berguna.”

Lalu diam menyerbu hari itu – entah malam entah siang, tak ada waktu pasti yang menentukan pasak masa di kehidupan itu, namun di ujung gelap sana, sebuah teriakan panjang terdengar sendu mengiringi seonggok tubuh yang meluncur ke lubang tanpa ujung, panas tiada tara. Na'udzubillahi min dzalik…

KotaSantri.com © 2002-2026