Pelangi » Percik | Jum'at, 29 Mei 2009 pukul 17:32 WIB

Karena... Entahlah...

Penulis : Rifatul Farida

Meluruhkan mimpi pada angin yang berhembus, agar tetap menjadi nada-nada yang terus mengalir dalam desah nafas asa memburu wujud nyata, mengalun seiring lelah yang coba runtuhkan ketegaran. Agar dapat berbagi pada tiap yang terdetik di hati, pada tiap yang terlintas di pikiran, hingga kesendirian berujung.

Adalah hal yang tak dapat dipungkiri ketika sisi rasa itu kuat menekan jiwa, agar lebih berpacu dengan bilangan waktu yang membentang panjang. Jangan lagi memburu fatamorgana yang melenakan, karena kesempatan tak kan selalu setia ada, karena hidup hanya sekali dan teramat singkat. Sementara masih teramat sedikit yang baru dilakukan atas nama pengabdian, yang merefleksikan ketaatan dalam tiap bulir mahabbah.

Namun untuk hadir kukuh dan tegak menapak pada terjalnya pijakan hidup, tak hanya diperlukan keistiqamahan dalam gerak, tapi juga orientasi pasti pada hasil akhir. Karena itulah tujuan, karena itulah hakikat, karena itulah muara setiap laku kehidupan yang pasti dimintai pertanggungjawabannya.

Itulah mengapa sebabnya iman harus menghujam di dada. Agar pada tiap mimpi yang ternyata bukan milik kita tak menghentak jiwa, yang kan berefek pada terguncangnya keridhaan atas kehendak dan takdirNya. Meski harus diakui sisi kemanusiaan kadang hadirkan kekecewaan, hingga akhirnya kita bawa pada sepertiga malam, menghanyutkannya dalam kemesraan berkhalwat. Dan berharap mimpi itu kan tetap ada meski bukan menjadi bagian dari milik kita, karena... entahlah....

"Allahu Rabbi... Jangan Engkau serahkan aku pada diriku walau hanya sekejab mata."

KotaSantri.com © 2002-2026