Pelangi » Percik | Selasa, 26 Mei 2009 pukul 17:46 WIB

Menanti Pemuda Harapan Bangsa

Penulis : Meralda Nindyasti

"Sejarah suatu bangsa selalu dimulai dengan sebuah judul yang bercerita tentang peran besar para pemuda. Tak peduli apa itu sebuah revolusi atau sebuah reformasi, maka pemuda selalu menjadi aktor sejarah yang senantiasa hadir ketika suatu bangsa membutuhkan ide besar dalam perjuangannya. Ide besar yang muncul dari sebuah inspirasi murni yang keluar dari akal dan nurani bersih yang dimiliki para pemuda. Inspirasi besar yang memunculkan ide-ide besar dan pada akhirnya menghasilkan kinerja-kinerja besar untuk mengubah arah haluan sejarah suatu bangsa. Mereka tidak hanya memulai perubahan, tapi juga mengisi perubahan itu dan menuntaskannya. Maka dari itu, sepertinya wajar jika dikatakan bahwa takdir sejarah senantiasa hinggap di tangan para pemuda."

Sahabat, sejarah telah mencambuk kita tentang banyak hal. Sejarahlah yang mengajarkan kita arti perjuangan dan kesempatan. "Jangan pernah lupa pada kulitnya," ungkapan yang bijak itu membuat kita teringat pada peristiwa besar 100 tahun lalu. Ya, tepat pada tanggal 20 Mei 1908, dr. Soetomo dkk mendobrak paradigma pergerakan pemuda Indonesia. Maka, melalui berdirinya Budi Utomo, terangkailah jejak-jejak perjuangan itu.

Jika kita belajar untuk tidak melupakan masa lalu, maka pertanyaan yang nyata dan pantas untuk diungkapkan adalah, "Bagaimana dengan kita sekarang?" Jangan dulu bangga jadi pemuda bangsa, jika belum berkontribusi untuk apa-apa yang ada di luar diri kita.

Sahabat, ayo bergerak dan berlarilah! Selagi saat kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, ada tangan-tangan yang bisa digandeng dan ada bahu-bahu yang bisa dirangkul. Itulah kita, ada untuk bersama. Jangan pernah merasa sendiri, karena ini saatnya menjemput kembali takdir kita sebagai inisiator kebangkitan bangsa!

Lantas, apa yang bisa kita perbuat?

Awalilah dengan bagaimana cara kita memandang dunia. Ada banyak tabir kefanaan yang lupa untuk kita sibak tirai kedustaannya. Ada banyak kerikil-kerikil persoalan, tapi kita belum menjadikannya sebagai senjata kinerja bangsa. Ada banyak ruang demokrasi, tapi kita terlena untuk sekadar menjadi penontonnya, bukan pemain perjuangannya!

Sahabat, ada kalanya kita perlu memahami bersama, tentang makna ketidaksempurnaan. Jika hidup ini diibaratkan runtutan anak tangga, maka sempurna adalah anak tangga tertinggi. Jangan pernah mau menjadi bangsa yang sempurna, walau dunia banyak mengagung-angungkan kehebatan negaranya. Jangan pernah mau menjadi pahlawan yang sempurna, walau banyak orang bangga dengan apa-apa yang telah diperbuatnya. Dan jangan pernah mau menjadi sempurna.

Tak ada anak tangga lagi di atas anak tangga tertinggi. Itu artinya tak ada istilah "perbaikan" di atas anak tangga kesempurnaan. Karena sempurna adalah anak tangga tertinggi, maka tak kan pernah ada lagi anak tangga lain yang bisa kita naiki. Itu artinya, sempurna adalah jalan untuk berhenti, karena tak ada proses untuk "belajar lagi dan lebih baik lagi".

KotaSantri.com © 2002-2026