Pelangi » Percik | Jum'at, 22 Mei 2009 pukul 18:44 WIB

Gumpalan Rasa

Penulis : Rifatul Farida

Ada yang mungkin harus dipikir ulang, tentang sebuah rasa yang seharusnya menjadi gumpalan indah, di antara deret awan di langit hati. Kala fakta memberi jawaban, untuk gundah yang memagar rapat kepasrahan, dalam rotasi jiwa yang tersentak menemukan muaranya.

Benarkah ini hanyalah sebilah takdir yang membelah sisi jiwa dan menyandarkan dalam dimensi yang tak mudah dimengerti? Sementara bulir-bulir dzikir menguntai indah dari rahim keimanan. Berkilau bening menjuntai anggun menyentuh kelopak sensitif dari bagian rasa yang menggurat dalam.

Mengembalikan kembali pada yang seharusnya, dalam relatif waktu yang mengulur rasa dari pendamannya. Seiring jatuhnya kesadaran akan laku yang masih jauh dari sempurna. Dia yang Maha Mengetahui setiap yang terdetik di hati, setiap yang terlintas di pikiran, selalu memberi ruang-ruang gerak dalam tiap kesungguhan ikhtiar.

Ketika rasa itu kini menghiba dari denting nurani, untuk sebuah kefitrahan sebagai mahlukNya dalam keagungan syahadatain, bukan semata tuntutan konsekuensi, melainkan kesadaran sebagai hamba yang mendamba. Hingga saatnya hal indah itu terucap, refleksi dari hakikat pemaknaan kehidupan seorang muslim, yang teryakinkan akan kebaikan-kebaikan dalam segala takdir kehidupan, “Aku tak peduli dalam keadaan sedih atau senang berada, asal Allah SWT ada di sana."

Kini dan untuk selamanya, mendupak nafsu diri yang mencipta noktah gelap rasa, agar menggumpal indah di langit hati. Menggelorakan kembali spirit keshalehan pribadi, menjadikannya lokomotif dalam jiwa muda yang meranum.

KotaSantri.com © 2002-2026