
Pelangi » Percik | Selasa, 12 Mei 2009 pukul 17:34 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Adakah yang kini dapat dilakukan di antara kepingan puing dalam balutan luka hati yang telah menggurat dalam? Adakah yang kini dapat dikais dalam reruntuhan asa yang menimbun wajah-wajah kecil ceria? Adakah kini yang dapat ditatap dalam bias hitam putihnya pelangi yang tak lagi merona indah?
Sisa itu yang kini setia menemani. Ya, sisa dari luka, sisa dari air mata yang membekas, sisa dari kain ukhuwah yang dikoyak silat lidah lihai berdalih, sisa dari kebrutalan yang jelas tak mugkin bernurani, sisa yang kemudian menjelma menjadi motivator sejati yang tak hanya mengobral teori.
Binar-binar keyakinan itu yang kini sekuat cahaya matahari, menelusuk relung hati dalam kepasrahan yang tak dapat diukur dalam logika dunia. Ada spirit ruhiyah menghebat yang kini mendarah daging, menyatu dengan tubuh-tubuh suci yang baru memulai kehidupan. Dalam hitungan tahun ke depan, merekalah masa depan yang telah mengantongi tiket kemenangan sebelum dan sesudah berlaga, karena hidup mulia menjadi pilihan, dan mati syahid sebagai tujuan.
Spirit ruhiyah yang menghebat, yang lahir dari jiwa-jiwa suci dalam rengkuhan kitab suci yang lahir dalam hitungan hari dalam benak pikiran yang matanya menyaksikan pembantaian di tanah airnya sendiri. Menyaksikan orang-orang yang dikasihi merenggang nyawa dengan mulut membiru, dengan luka bakar menembus tulang.
Jiwa yang kini telah menjelma menjadi singa gurun, yang sudah pasti akan mempertahankan rimbanya. Dalam pengabdian abadi untuk kehormataan dan harga diri bangsanya dari pelecehan zionis Israel.
Di antara kepingan puing dalam balutan luka hati yang telah menggurat dalam, di antara reruntuhan asa yang menimbun wajah-wajah kecil ceria, dalam bias hitam putihnya pelangi yang tak lagi merona indah, masih ada bongkahan janji dari Tuhan Semesta Alam, bahwa kemenangan itu akan tiba masanya, yang kini disongsong oleh lahirnya jiwa-jiwa suci dengan spirit menghebat yang telah siap mewakafkan dirinya untuk perjuangan. Itulah mengapa sebabnya mereka hanya mengambil dua pilihan; hidup mulia atau mati syahid!
KotaSantri.com © 2002-2026