Pelangi » Muslimah | Kamis, 23 Mei 2013 pukul 21:00 WIB

Muslimah Harus Tegar dalam Berdakwah

Penulis : Redaksi KSC

Menjadi seorang yang shaleh merupakan dambaan setiap manusia. Betapa tidak, menjadi orang yang shaleh merupakan limpahan rezeki yang tidak dapat dihargakan dengan uang maupun harta benda lain. Orang semacam ini salah satu manusia yang dalam kehidupannya akan selalu memancarkan cahaya keimanan. Setiap tutur katanya menjadi tuntunan, setiap sikap yang dilakukannya menjadi tauladan, dan setiap ide/gagasannya akan menjadi penerang demi sebuah perubahan.

Perjuangan untuk menjadi orang shaleh tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi. Islam memandang bahwa shalehnya orang Islam harus memberikan warna keshalehannya pada saudara-saudara di sekitarnya. Baik itu dirinya, keluarga, hingga masyarakat secara luas. Karena Islam telah mengajarkan bahwa sebagai manusia memiliki fungsi untuk beribadah pada Allah (Habluminallaah) dan juga pada manusia (Habluminannaas).

Keshalehan dalam konteks ini adalah ketegaran seorang muslimah dalam berdakwah. Banyak aspek yang dapat dilalui seorang muslimah dalam meraih ketegaran berdakwah. Hal ini tentunya disesuaikan dengan tuntunan masalah yang dihadapi. Sehingga muslimah dapat melalui jalan dakwah sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Sebagaimana yang dituliskan dalam hadits bahwa 'Serahkanlah segala urusan pada ahlinya, jika tidak maka tunggulah kehancurannya' (Al-Hadits). Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang selalu sesuai dengan kondisi Zaman. Bukan agama yang menyesuaikan tetapi solusi yang Islam tawarkan telah jauh hari terformulakan dengan baik dalm Al-Qur’an. Sehingga sesulit apapun permasalahan dakwah dapat terselesaikan dengan tuntas, karena adanya nilai-nilai Islam.

Sama halnya dengan kasus penerbitan majalah Playboy Versi Indonesia, yang menuai banyak aksi ketegaran dalam berdakwah seperti aksi solidaritas ribuan massa Partai Keadilan Sejahtera di Bundaran HI Jakarta, 27 Januari 2006 lalu. Aksi serupa dilakukan pula oleh Salimah (Persaudaran Muslimah) Bandung di DPRD Jabar.

Jika hal ini tidak disikapi secara tegas oleh para aktivis dakwah muslimah, maka kondisi ini akan sangat merugikan dan menghancurkan tatanan nilai sosial ketimuran yang ada di Indonesia. Kenapa mesti kita yang bergerak? Ya kenapa tidak, berdasarkan tulisan Rubrik Resonansi Asro Kamal Rokan di harian Republika pada tanggal 1 Februari 2006 menuliskan bahwa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang bertugas mengawasi acara-acara televisi, masih sibuk dengan mengurus dirinya.

Kondisi tersebut sangat jelas dan nyata bagi kita untuk tetap bergerak dan tegar dalam berdakwah. Hal ini pula yang dicontohkan oleh para mujahidah dakwah kita pada zaman Rasulullah SAW. Kita lihat saja perjuangan Sumayyah di dalam menghadapi kezhaliman para penguasa. Atau muslimah Ikhwanul Muslimin Hamidah, yang terus menerus menerima siksaan dan perlakuan yang tak layak serta bertubi-tubi dari penguasa zhalim Yahudi, tapi tetap tegar dalam menghadapinya.

Ataupun satu kasus contoh yang masih baru terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah ketegaran para muslimah Suriah dalam membela dan menjaga keutuhan nilai-nilai Islam, mereka dengan tegasnya melakukan aksi di depan Kedubes Denmark di Damaskus terkait dengan pemuatan kartun Nabi Muhammad SAW di salah satu Koran Denmark.

Sungguh suatu kondisi yang menakjubkan dan membuktikan keMahabesaran Allah SWT, ketegaran mereka dalam berdakwah merupakan salah satu bentuk keyakinan mereka terhadap bimbingan yang diberikan olehNya bahwa "Sesungguhnya Allah sudah membeli dari kaum mukminin diri pribadi dan harta kekayaan mereka, sedang untuk mereka diberi imbalan surga..." (QS. At-Taubah : 111).

Ya, karena pancaran cahayaMu lah yang selalu memberikan energi penggerak bagi dakwah kami, dan para mujahidah dakwah sejati meyakini bahwa dakwah yang dilakukannya akan selalu berada dan disertai oleh sang Maha Kekasih (Subhanallaah). Sehingga perjuangan yang begitu berat akan dirasakannya ringan, karena Sang Kekasih setia menemani setiap aktivitas dakwah yang dilakukan. Kesetiaan ini, tidak akan pernah didapatkan oleh para pejuang yang zhalim.

Atas nama kebebasan, marilah untuk tegar dan bergerak menuju peraihan cahaya yang Maha Pemilik Kebebasan sejati. Kalau tidak sekarang maka yakinlah kita tidak akan pernah meraih kebebasan yang hakiki, sampai kita pulang padaNya.

Rodiannauli Pane, S.Sos. - Swadaya-43

KotaSantri.com © 2002-2026