
Pelangi » Muslimah | Kamis, 7 Februari 2013 pukul 15:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Muslimah yang kuat adalah muslimah yang bisa menghadapi berbagai macam kesulitan hidup dengan selalu bersandar pada Allah. Keyakinannya kuat akan pertolongan Allah, sehingga ia selalu optimistis menghadapi hidup. Bukan berarti tidak membutuhkan teman untuk berbagi, namun dengan berbekal keyakinan yang kuat, ia menjadikan temannya dan apapun yang ada di sekelilingnya hanya sebagai syari'at datangnya pertolongan Allah. Ia kembalikan hakikat kejadian yang menimpanya hanya atas izin Allah.
Suatu ketika seorang muslimah yang sedang dirundung kesulitan datang mengadukan masalahnya. Tidak ada kata dan pemecahan kecuali disarankan untuk membuka Al-Qur'an dan memohon petunjuk Allah agar dibukakan pintu pertolongan-Nya. Seketika ia membuka Al-Qur'an dan dengan izin Allah, ia temukan satu ayat yang menggugah relung qalbunya.
"Tidakah kamu memerhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya kuat, dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhan-Nya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat." (QS. Ibrahim [14] : 24-25). Yang dimaksud dengan kalimat yang baik adalah kalimat La ilaha ilallah.
Subhanallah, inilah ayat yang ia dapati dalam waktu sesaat ketika ia membuka Al-Qur'an. Ia termenung sejenak memaknai kalimat La ilaha ilallah, tiada tuhan selain Allah. Ya Rabb, hamba yakin tiada Tuhan selain Engkau. Ia pun terus mencoba memasukkan makna La ilaha ilallah ke dalam lubuk sanubarinya yang paling dalam hingga ia merasakan ketenangan dan kesejukan ketika ia lafazkan dalam zikir di setiap helaan napasnya.
Seperti yang tercantum dalam ayat tersebut, bahwa orang yang sudah teruji dan yakin dengan makna La ilaha ilallah, maka ia akan menjadi manusia yang dirasakan banyak manfaatnya oleh lingkungan di sekitarnya. Salah satu hasil dari keyakinan kepada Allah adalah untaian kata-kata yang diucapkannya adalah kata-kata yang baik, karena Allah senantiasa menuntun setiap kata yang dituturkannya. Tidak ada kata sia-sia kecuali setiap kata mengandung makna zikir pada Allah. Tidak ada kata yang menyakiti kecuali hanya berlindung pada Allah dari setiap perkataan yang mengandung ghibah. Semua itu adalah bentuk implementasi dari rasa takut dan cinta pada Allah.
Bukan hal yang mudah untuk menumbuhkan dan menguatkan keyakinan, namun jangan menganggap sulit sejauh kita mau mencari ilmu, mengamalkan, dan melatih diri untuk dapat mencintai Allah. Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan sarana berlatih menguatkan keyakinan dan kecintaan kepada Allah, di antaranya :
Selalu merasa dilihat Allah.�Tidak semua orang yang dalam keadaan sadar merasakan kehadiran Allah saat melaksanakan aktivitasnya. Padahal, sekecil apapun perbuatan kita tidak luput dari pengawasan Allah. Bukankah Allah telah menugaskan malaikat Rakib dan Atid untuk mencatat semua perbuatan yang kita lakukan?
Terkadang kita lebih ‘jaim' (jaga image) di hadapan manusia daripada di hadapan Allah. Sebagai contoh, seorang ibu yang sedang berkunjung ke rumah mertuanya mendapati anaknya yang rewel, menangis tidak mau diam. Apa yang dilakukan ibu ini ketika di hadapannya ada mertuanya, dibelai lembut dan dininabobokanlah anaknya sampai terlelap.
Lain halnya dengan ketika kondisi ini, ia hadapi tanpa kehadiran mertuanya. Kebiasaan buruknya adalah mencubit dan memarahi. Itulah kebiasaan buruk kita, padahal meskipun dalam keadaan tidak ada seorangpun, namun Allah tetap Maha Melihat.
Setiap selesai berbicara, membiasakan evaluasi diri dengan beristigfar.�Terkadang dalam suatu pertemuan kita lepas kontrol dalam menyampaikan ide atau pendapat, sehingga secara tidak sadar banyak perkataan kita yang terucap karena nafsu dan kepentingan pribadi, bukan karena semangat solusi memecahkan masalah. Hal ini mungkin bagi sebagian orang dianggap sepele, namun jika riyadhah ini diamalkan, insya Allah akan menjadi pintu masuk kedekatan kita kepada Allah.
Jangan berbicara ketika suasana hati tidak enak
Teko itu akan mengeluarkan isi teko. Jika berisi air jernih maka jernih pulalah minumannya, sebaliknya jika berisi air kopi maka keruhlah warna airnya. Itulah kiasan sederhana tentang kondisi hati kita. Untuk menjaga lisan dan perbuatan dari hal-hal yang dapat menyakitkan, maka berpikir sejenak dan renungi kondisi hati saat kita akan berbicara. Jika kondisinya sedang tidak enak sebaiknya menahan diri untuk berkata-kata.
(Ninih Muthmainnah, pengasuh rubrik Oase Majalah Swadaya Lembaga Amil Zakat Nasional Dompet Peduli Ummat (DPU) Daarut Tauhiid)
�
KotaSantri.com © 2002-2026