Pelangi » Muslimah | Kamis, 11 Oktober 2012 pukul 13:00 WIB

Jangan Sebut Aku Perempuan Sejati

Penulis : miomio

"Jangan sebut aku perempuan sejati bila hidup hanya berkalang lelaki, namun bukan berarti aku tak butuh lelaki untuk aku cintai." (Nyai Ontosoroh, Bumi Manusia).

Dari dulu, saya suka sekali dengan kata-katanya Nyai Ontosoroh di Novel Bumi Manusia-nya Pak Pramoedya. Menurut saya pribadi, penggalan di atas tidak berarti wanita bisa berdiri sendiri dan tak butuh lelaki. Tentu saja tidak, sebab Allah telah menciptakan manusia berjenis laki-laki dan wanita untuk berpasang-pasangan.

Pun penggalan tersebut tak bermaksud agar semua wanita (istri) membangkang dengan suami, tentu saja tak demikian, sebab wanita dan laki-laki adalah partner yang memiliki tugas masing-masing, tak ada pihak yang boleh direndahkan.

Dalam budaya Jawa sendiri, para wanita biasanya dididik untuk patuh dan sendiko dhawuh pada suami. Bahkan untuk menggambarkan betapa seorang istri itu patuh dan penurutnya pada suami, sampai ada pepatah seperti ini, “Istri itu suargo nunut neroko katut, wanito iku yo wani ditoto gak oleh sak karepe dhewe.”

Dan jujur, saya termasuk orang yang sangat bangga dengan budaya Jawa yang diwariskan nenek moyang dan para leluhur kepada saya, tentang sopan santunnya dan segala macam tata kramanya. Meskipun saya juga sangat mencintai kebudayaan-kebudayaan yang lainnya.

Kembali lagi ke pembahasan di atas. Menurut interpretasi saya, beginilah maksud penggalan kata-kata Nyai Ontosoroh tersebut;

1. Seorang wanita harus lemper, lembut, dan kuat. Ketika ada suaminya, bolehlah bermanja-manja. Tapi ketika suaminya tidak ada, dia harus kuat dan perkasa. Bila ada suatu masalah, jangan sampai curcol kepada cowok yang bukan suaminya. Intinya, seorang wanita memang harus bisa menjaga diri.

2. Meski begitu, bukan berarti seorang wanita menutup diri. Tentu saja tidak. Ya, dia wajib pintar dan jangan mau kalah dari laki-laki. Kewajiban belajar kan buat semua gender.

3. Kemampuan wanita untuk menjaga diri, ketegasannya, cara berperilakunya, dan hal-hal lain (terlebih buat yang sudah menikah) bukan semata-mata untuk suami sebenarnya, melainkan untuk dirinya sendiri. Kemampuan wanita untuk menjaga diri sebanding dengan kualitas dirinya.

4. Wanita harus berkarya dan tak mudah mengeluh mau ditempatkan di mana saja. Pak Pramoedya bisa membuat buku di dalam penjara, jadi apa alasan kita untuk tidak berkarya? Padahal kita tidak berada dalam penjara, kita tidak diasingkan.

KotaSantri.com © 2002-2026