
Pelangi » Muslimah | Kamis, 8 Maret 2012 pukul 14:14 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Masih juga pro-kontra tentang "mejengnya" foto-foto akhwat di dunia maya. Dengan beraneka macam mula niat. Hmm... Apapun itu, sebetulnya mematok pada dua pertanyaaan; untuk apa dan untuk siapa?
Saya pribadi, tidak mau melibatkan diri pada "perdebatan" sengit fonemena akhwat mejengin foto di dunia maya. Toh, kembali pada diri masing-masing yang semoga menjadi evaluasi diri dengan kata 'untuk apa' dan 'untuk siapa'? Dan barangkali jawabannya relatif, berdasarkan kepentingan dan kebutuhan.
Kalau di dunia marketing, kadang foto diri, di kartu nama misalnya, akan bisa menjadi "daya tarik" tersendiri bagi calon customer. Makanya jangan heran kalau kemudian sering ngedapetin kartu nama yang ada foto cewek cantik atau cowok cakep dengan pose senyum memikat atau diam menawan.
Tapi, sekali lagi, mula niat, untuk apa dan untuk siapa, lebih banyak manfaatnya atau mudharatnya. Hanya kejujuran pada diri sendiri, pada yang Maha Melihat dan pada orang lain, yang mampu memberi jawaban dengan tepat.
Apakah akhwat gak boleh nampangin diri di dunia maya? Diskriminatif sekali? Banyak ikhwan yang nampang kok gak ada yang protes ya? Hmm... Pertanyaan yang cukup serius dan menuntut kita untuk berpikir jernih. Dan saya di sini, punya banyak pertimbangan untuk tidak langsung menjawabnya, karena ini tak kan cukup mewakili banyak alasan dan kepentingan.
Hanya saja, bila boleh saling mengingatkan, mari evaluasi lagi dengan kata kunci 'untuk apa' dan 'untuk siapa', lebih banyak mudharatnya kah atau lebih banyak manfaatnya kah, tidak hanya hitung-hitungan manfaat-mudharat untuk pribadi kita, tapi juga untuk orang lain. Ya, evaluasi lingkaran diri sendiri dulu sebelum nanti "mengirikan" lingkaran luar bernama ikhwan.
Saya pribadi, termasuk orang yang mudah narsis, tapi ketika dibatasi dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan agar kepentingan saya ter-cover, maka saya akali dengan zoom in, atau jika harus majangin foto yang besar, biasanya sengaja yang kabur. Teman-teman (lama) saya yang pernah ketemu saya pasti segera ngeh kalau itu saya. Barangkali ini bisa menjadi alternatif bagi para akhwat yang tidak ingin vulgar terlihat, tapi tetep dikenali oleh teman-teman di masa lalunya.
Selain itu, biasanya adalah untuk kepentingan dokumentasi suatu kegiatan yang kita ikuti atau sekedar nostalgia. Ini yang mau gak mau pasti mejeng dengan jelas dan sempurna di dunia maya ketika tanpa permisi tahu-tahu teman kita nge-tag dengan wajah ceria dan perasaan bangga berbuanga-bunga. Lalu kalau sudah begini, bagaimana "menyamankan" dua cara pandang yang berbeda.
Kalo saya pribadi tidak begitu memusingkannya, kerena tag album di FB misalnya, bisa saya setting just privacy, sehingga seribu lebih jumlah teman yang ada di contact saya tidak akan bebas melihatnya. Masih untuk preventif, dengan perasaan ringan bagian "tag" yang ada nama saya, saya remove. Jadi, temen saya tetep bisa mejengin foto rame-rame kami dulu tanpa sentilan protes dari salah satu temannya, saya pun tetep nyaman berteman dengannya di dunia maya.
Pada akhirnya, semuanya tetap kembali pada pribadi masing-masing bagaimana menyikapinya. Namun hal yang patut menjadi ingatan sepanjang waktu, bahwa kita punya standarisasi kepribadian sebagai muslim/mah, yang tentunya punya laju gerak yang jelas, dari mula, pertengahan, hingga akhirnya.
Selamat mengevaluasi lingkaran terdalam dari diri, semoga mampu menjadi muhasabah keimanan serta upaya tanggung jawab sebagai seorang muslim/mah.
KotaSantri.com © 2002-2026