
Pelangi » Muslimah | Kamis, 22 September 2011 pukul 16:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Selalu, AsmaNya mendahului diucapkan dalam aktivitas apapun. Dialah yang memiliki nama-nama indah dalam keagungan Asmaul Husna. Segala puji hanya milikNya, Rabb semesta alam raya.
Di hamparan laku taman kehidupan, pada sekuntum bunga merah hati nan menarik pandang, mengandaikan jika keindahan hanya untuk sang bunga, maka segala pesona adalah miliknya. Dan wanita, selalu saja sampai hari ini di identikan dengan bunga. Lalu, bunga apa yang engkau pilih ukhti, untuk men-sketsakan dirimu walau hanya sekelebatan?
Apapun itu pilihanmu, pastinya tak ‘kan pernah engkau pilih yang beraroma bangkai, busuk menusuk penciuman dan siapa saja menghindari, meski engkau begitu elok dipandang dan mengagumkan.
Jika harus menjadi bunga, mari mewangi! Dan tebarkan wewangian itu di setiap hati yang memandang, Sehingga akan didapati rekahan-rekahan senyuman pada siapa saja yang mendekat dan dekat denganmu. Setiap hati senang padamu, setiap pagi ceria dengan adamu.
Namun bunga, jangan terburu berbangga diri dengan wangimu dan segala pesona yang ada padamu. Jika ternyata itu hanya dijadikan tebar pesona semata, tanpa pernah memikirkan potensi fitnah dibaliknya. Maka, kembali lagi pada niat untuk segala gerak dan laku akan selalu menjadi muhasabah bernilai penting.
Mari kuajak engkau menyimak sang Nabi saw menguntaikan sketsa indah seperti apa seharusnya engkau menjadi.
”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain ” (HR. Bukhari).
Ya, menjadi sebaik-baik manusia. Dan mari lakukan!
Muslimah, lihatlah matahari. Rasai perkasa cahayanya, yang menyinari bumi dengan jangkauan luas.
Menjadi matahatari, adalah memaknai kehidupan menjadi amanah yang tak hanya berlaku untuk diri sendiri. Menopang banyak kepentingan dari luar diri, dan mengalihkan keinginan dari harapan menjadi orientasi. Dari menerima menjadi memberi.
Memutuskan menjadi matahari, berarti memutuskan melakukan pekerjaan penting, dan bertanggung jawab pada setiap jengkal kehidupan yang keberlangsungannya membutuhkan cahaya, yang tumbuh kembangnya bergantung pada sinarannya.
Menikah, bagi seorang muslimah. Seperti memutuskan menjadi matahari. Karena akan ada keberlangsungan hidup selanjutnya yang membutuhkan peran pentingnya. Menopang jiwa lain dalam dirinya, dan jiwa-jiwa baru dikemudiannya. Melakukan pekerjaan tanpa jeda serta memantangkan keluhan dalam hidup.
Pada setiap lelaki hebat, selalu dibersamai dengan seorang wanita hebat. Demikian yang kita fahami selama ini, dan dibuktikan dalam banyak kisah di masa lalu. Seperti Khadijah yang membersamai Muhammad saw, Fatimah Azzahra yang membersamai Ali bin Abi Thalib dan masih banyak yang lainnya..
Jika ini disebut dengan pekerjaan berat, maka sejatinya hanyalah cara pandang pada diri sendiri. Seperti halnya masalah yang sering menyambangi hidup, yang besar kecilnya ternyata hanya bergantung dengan bagaimana kita memandangnya.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Kita ingin menjadi bermanfaat. Namun bukankah kebermanfaatan itu urutannya dimulai dari cakupan yang paling dekat, sekaligus yang paling dasar dan yang paling penting untuk peradaban manusia? Cakupan itu adalah keluarga, dengan peran vital kita adalah menjadi isteri yang shalihah, dan ibu yang mulia bagi anak-anak penyambung generasi Rabbani. Kemudian baru berurut ke cakupan berikutnya; lingkungan, masyarakat, negara dan dunia yang pada akhirnya merefleksikan tentang Islam yang rahmatan lil’alamin.
Ya, isteri yang shalihah dan Ibu yang mulia. Dua peran hebat, yang hanya bisa dilakukan, jika kita menjalani amanah kewanitaan kita versi Allah swt. Dengan tolak ukuran nilai keshalihahan dan kemuliaan adalah takwa.
Maka, mari maksimalkan sedari awal, tentang kebermanfaatan yang harus kita lakukan, di hidup kita yang hanya sekali-kalinya ini. Mematrikan sebuah konsep pikiran di rendah dasar hati; bahwa menjadi bermanfaat adalah orientasi hidup. Dengan deskripsi jelas tentang orientasi hidup kita adalah menjadi isteri yang shalihah, dan ibu yang mulia bagi anak-anak penyambung generasi Rabbani.
Wallahu a’lam bishawab.
KotaSantri.com © 2002-2026