
Pelangi » Muslimah | Kamis, 30 Juni 2011 pukul 13:55 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Pada setiap lesat pandang, pada setiap apa yang terdengar, pada setiap nafas yang terhembus, pada setiap laku yang tercipta, pada setiap kata yang terucap, pada setiap niat yang terdetik, pada setiap lintasan pikiran. Pada semua hal yang ada dalam kehidupan kita. Demi DIA yang Mahadetail lagi Mahalembut. Maha Melihat lagi Mahacepat hitungannya. Sungguh, semuanya pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Tak kan ada yang lolos meski hanya sebesar biji zarah.
Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian.
Akhwat, kaifa manuk?
Semoga keimanan itu masih tetap menghujam kuat di dalam dada. Yang menjadi batas pembeda nyata dan jelas, memaknai setiap yang ada dalam kehidupan manusia. Jika engkau tak beriman, maka Allah telah menyebutmu kafir dan menjadi bagian orang-orang yang sesat, orang-orang yang dimurkai.
Sesungguhnya kita berlindung dari kekafiran. Inginnya, kita tetap dalam keimanan. Mestinya, keimanan mempararelkan ketaatan. Seharusnya, hasil akhirnya adalah takwa. Dan nyatanya kita? Sudah bertakwakah? Sejauh mana komitmen keimanan itu, sejauh mana komitmen ketaatan itu? Sejauh mana komitmen kita dengan anugerah kemuslimahan ini?
Ceritanya menutup aurat dengan sempurna, nyatanya juga disisipi sifat riya’ di balik bagusnya pakaian. Nampaknya shaum sunnah telah menjadi kewajiban diri, nyatanya menjadi tanda eksistensi bahwa standar akhwat memang begitu, oh, ceritanya biar tetap disebut akhwat. Tilawah rutin tanpa merutinkan peningkatan pemahaman pada apa yang dibaca. Hafalan jalan karena harus setoran setiap akhir pekan, atau iqab menanti dan gengsitifitas turun di mata murabbiyah. Begitukah? Semoga saja tidak!
Maka tetaplah pada kelurusan niat, atau semua yang kau lakukan hanya berakhir dengan sia-sia belaka. Memetik amal tak bermakna yang tak seberapa pula.
Demi masa, sesunngguhnya manusia dalam kerugian, melainkan yang beriman dan beramal shaleh.
Sudah tahukah engkau bagaimana amal shaleh itu? Kita lihat lagi; beriman dan beramal shaleh. Menjadi serangkai kalimat yang dengan kata penghubung “dan” bukan “atau”. Itu artinya engkau tak bisa hanya memilih salah satunya. Maka lakukan keduanya bersamaan. Karena manifestasi dari iman adalah amal. Jadi, mari “menikahkan” antara niat dan laku, dengan rujukan shahih Al-Qur’an dan Sunnah. Melahirkan banyak amalan shaleh dalam kawal ketat menurut syari’atNya. Berimanlah dan pararelkan keimanan kita dalam tutur dan laku.
Tak hanya itu. Sebab tegas ayatNya turut serta memaparkan, bahwa tak dibiarkan siapapun mengatakan beriman, kecuali IA akan mengujinya. Ya, ujian.
Sungguh, kita berlindung dari kekafiran dan inginnya tetap berada dalam keimanan. Begitu kan? Keimanan yang akan dibenturkan dengan ujian. Sadari ini diawal mula dan jangan pernah lagi mengeluh pada apapun yang datang menyambangi hidupmu. Jangan pernah mengeluh pada kehidupan! Karena ini jalan yang kita ingini. Sebaliknya, komitmenlah dengan apa yang sudah kita ingini. Atau boleh jadi engkau langsung masuk kotak dalam golongan orang yang disebut-sebut pada surat Ash-Shaff
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff : 2-3).
Jangan engkau berkata beriman, jika engkaupun tak mau melakukan apa yang seharusnya dilakukan orang beriman. Dan wanita beriman dalam keyakinan agama rahmat ini dikenal dengan sebutan muslimah.
Wahai muslimah, bagaimana kabar kemuslimahanmu?
Shalatmu, ibadahmu, hidupmu, matimu. Sudahkah semuanya terniatkan hanya untukNya dan karenaNya? Jika belum, mari kita belajar bersama, mari kita memahami bersama. Bagaimana seharusnya menjadi muslimah menurutNya.
Ketika dengan detail semua yang ada di kita diatur sedemikian rupa. Mulai bagaimana engkau berpakaian, bagaimana bergaul, bagaimana tertawa, bagaimana berlaku pada sesama, bagaimana berakhlaq pada keluarga, dan bagaimana menjalani hidup sebagai muslimah. Semuanya telah sempurna diatur.
Jangan pernah ikut latah dengan slogan konyol nan menjerumuskan, “aturan dibuat untuk dilanggar”. Karena yang benar adalah aturan dibuat agar kita teratur. Dan teratur itu menciptakan keharmonisasian, keseimbangan, serta bertautannya banyak hakikat kepentingan hidup dalam satu aturan mufakat dari yang Maha Teratur, Allah Azza wa Jalla.
Maka, aturlah hidupmu dalam syari’at Islam. Dengan qudwah terbaik adalah Rasullullah SAW. Atur sisi negatifmu dengan tak melanggar larangannya, atur sisi positifmu dengan mengerjakan perintahnya. Ya, negatif-positif. Sudah menjadi fitrah ada di dalam diri kita. Dan Islam tak menafikan hal itu. Itulah kemudian yang dilakukan Islam. Mendekati sisi negatif manusia dengan larangan dan ancaman, dengan hasil akhir neraka jika dilanggar. Mendekati sisi positif kita dengan anjuran dan dorongan, dengan hasil akhir mendapatkan surgaNya jika dikerjakan. Itulah yang dijanjikan. Dan Allah SWT adalah sebaik-sebaik penjamin janji.
Jangan pernah berpikir andai surga dan neraka tak pernah ada, karena pada kenyataannya kedua tempat itu telah dicipta, dan boleh jadi dengan pikiran “nakal” itu kita sedang sok tahu tentang apa yang sebaiknya dicipta dan sebaiknya tidak dicipta. Padahal hak mutlak penciptaan adalah milik Allah SWT. Jika demikian, masih beranikah engkau dengan pikiran nakalmu itu? Jangan bermain-main, kawan! Meski sejatinya hidup ini hanyalah senda gurau, semu, fana, dan sementara. Namun, hidup juga bermakna, saat di mana menebar kebajikan di ladang amal, yang hasilnya pasti tersemai di akhirat kelak.
Wahai wanita Islam, merasakah engkau sebagai muslimah? Karena ini yang akan kita bicarakan selanjutnya, tentang muslimah, tentangmu, tentang wanita.
Bersambung... Insya Allah.
KotaSantri.com © 2002-2026