Pelangi » Muslimah | Kamis, 10 Maret 2011 pukul 13:15 WIB

Agar Suami Mengizinkan Istri Bekerja

Penulis : miomio

Bahasan kali ini memang aneh dan tak seperti biasanya. Sekedar ingin berbagi pengalaman, mungkin saja bermanfaat. Kali ini yang akan dibahas adalah tentang "bekerja setelah menikah". Tentunya hal ini ditujukan buat istri, karena kalau laki-laki sudah tentu kewajiban mereka adalah bekerja untuk menafkahi keluarga.

Tentunya tipe suami itu berbeda-beda. Namanya juga dilahirkan, dididik, dan dibesarkan di lingkungan yang berbeda. Yang kembar saja bisa berbeda, apalagi yang tidak. Ya kan? Ada suami yang dengan senang hati mengizinkan sang istri untuk bekerja setelah menikah. Adapula suami yang melarang istrinya untuk bekerja. Bekerja di sini adalah kegiatan yang menghasilkan uang, dan bukan kegiatan rumah tangga seperti memasak, karena memasak walaupun tentu saja bisa dikatakan bekerja, karena menghasilkan sesuatu berupa masakan, namun tidak menghasilkan uang kecuali memang buka warung/restoran.

Bagi saya, keduanya adalah pilihan yang sama-sama baik. Ya, setiap rumah tangga kan punya "rambu-rambu" atau "undang-undang rumah tangga" sendiri-sendiri, jadi ya tidak bisa disamakan. Asalkan semua sudah disepakati bersama (suami dan istri) serta dilakukan dengan ikhlas, semuanya Insya Allah akan berjalan dengan lancar. Itu menurut pendapat saya, kalau mungkin ada yang berbeda ya silahkan. Bagi saya, perbedaan itu indah seindah pelangi di sore hari.

Lalu, bagaimana dengan istri yang dilarang suaminya bekerja tapi dia pengen banget seperti orang ngidam yang bila tidak dituruti bisa berakibat fatal, misalnya ketidakikhlasan dalam menjalankan tugas sehari-hari, dendam membara, hingga selingkuh. Na'udzubillah, semoga apapun masalahnya kita tidak akan melakukan hal-hal yang bisa merugikan keluarga, apapun bentuknya. Amin.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan bila kita ingin menyampaikan sesuatu pada suami, termasuk keinginan untuk bekerja di luar rumah, di antaranya adalah :

1. Niat tulus memang ingin beraktivitas, bukan untuk yang lain, misalnya : tebar pesona atau cari "pemandangan" gratis (na'udzubillah).

2. Katakan di momen yang tepat (pas lagi santai, pas lagi bahagia, atau habis gajian) dan jangan pas suami badmood.

3. Manjakan dia dulu, bisa dengan kata-kata manis, makanan kesukaan, atau hal lain. Berikan sesuatu yang berbeda dari biasanya.

4. Bila pada awalnya suami marah, tanggapi kemarahan itu dengan senyuman dan jangan langsung menyambar seperti petir (nanti bisa perang mulut). Tunggu dan sabar hingga emosinya reda.

5. Tentu saja berdo'a supaya dimudahkan.

Yakinlah bahwa Wanita adalah makhluk yang hebat yang bisa menjadi siapa saja (ibu, istri, dirinya sendiri, dan wanita yang bisa menginspirasi lingkungan sekitarnya menjadi lebih baik lagi). Oleh sebab itu, jangan biarkan sinar itu padam dari dalam dirimu. Bersinarlah hingga akhir hayatmu, para wanita.

Semoga berkenan dan bermanfaat.

KotaSantri.com © 2002-2026