
Pelangi » Keluarga | Sabtu, 15 Juni 2013 pukul 13:00 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Membentuk dan membina keluarga Islami merupakan tujuan luhur setiap pasangan muslim. Keluarga Islami adalah model berkeluarga yang wajib diwujudkan, karena berkeluarga adalah salah satu bentuk ibadah yang telah ditentukan. Jika semakin banyak keluarga yang memahami tujuan berkeluarga ini, maka diharapkan semakin mudah membentuk masyarakat Islami, karena awal dari terbentuknya masyarakat Islami adalah dari pribadi-pribadi yang lahir dari keluarga yang Islami pula. Namun, terdapat pula bentuk keluarga lain yang tidak bersesuaian dengan konsep keluarga Islam tadi.
Apabila kita coba bagi ke dalam tiga kategori bentuk keluarga yang terdapat dalam masyarakat, maka akan kita temukan paling tidak tiga bentuk model keluarga-"Ang". Pertama keluarga pejuang, keluarga pencari uang, dan keluarga sungsang.
***
Keluarga Pejuang
Jihad mempunyai arti pula berupaya secara sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar ma'ruf nahyi munkar, memperbaiki dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta berusaha melaksanakan ketentuan Allah SWT dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat.
Jadi, sebuah keluarga mujahidin (pejuang) adalah keluarga yang sarat dengan nilai-nilai dan karakter tersebut. Sebagai seorang pejuang Islam (mujahid), seorang individu memiliki tuntutan untuk menjalankan idealisme seorang pejuang. Adapun suami sebagai qawwam di rumah tangga memiliki kewajiban untuk mendidik istrinya dalam mengembangkan berbagai potensi jihad. Isyarat peran suami sebagai pendidik disampaikan misalnya pada ayat : "Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS at-Tahrim : 6).
Dakwah terpancar dari rumah tangga muslim model seperti ini. Dr Abdul Mufa'al Muhammad al-Jabari di dalam bukunya, 'Identifi Rumah Tangga Muslim' menulis, di antara ciri wujudnya identitas rumah tangga muslim ialah kewajiban berdakwah mestilah terlaksana dalam rumah tangga itu. Karena terdapat banyak pendakwah yang sangat aktif di medan dakwah tetapi roh dakwah tidak terwujud di dalam rumah tangganya, sehingga bukan saja isteri dan anak tidak memberi dukungan terhadap perjuangannya, bahkan mereka menjadi penghalang utama, menjadi beban pikiran sehingga akhirnya bisa jadi sang pendakwah meninggalkan perjuangan jihadnya.
Di dalam surah ar-Rum ayat 21, Allah SWT telah berfirman, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri daripada jenismu supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa mawaddah dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. "
Al-Qurtubi telah mencatatkan komentar lbn Abbas mengenai 'mawaddah' yang dijelaskan sebagai 'cinta kasih' seorang lelaki kepada isterinya, dan 'rahmah' bermaksud 'rahmatnya' agar isterinya jangan sampai menderita atau mengalami kesusahan. Di sini dapat disimpulkan bahawa pembentukan rumah tangga Muslim itu diasaskan di atas 'mawaddah' dan 'rahmah'.
Dengan demikian untuk menuju hal-hal tersebut, seorang suami harus berjihad berjuang keras dalam memperolehnya. Maka keluarga pejuang bukan berarti tidak memiliki usaha ke arah yang 'terlihat' duniawi. Melainkan motivasi, cara, dan pemanfaatannya yang membedakannya dengan yang lainnya. Niat karena Allah semata, dengan cara yang dilakukan sesuai syariat, dan dimanfaatkan di jalan Allah.
***
Keluarga Pencari Uang
Sebuah keluarga yang berorientasi hanya untuk kepuasan jasmaniyah material dan aksesoris-aksesoris duniawi lainnya, bisa dikategorikan ke dalam kelompok ini. Di tengah sebagian masyarakat yang sakit, dalam memaknai pernikahan seringkali digunakan dengan paradigma serba duniawi.
Bagaimana ciri keluarga yang cinta dunia? Aa Gym menjelaskan bahwa jika seseorang mencintai sesuatu, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Pikirannya selalu dunia, pontang panting siang malam mengejar dunia untuk kepentingan dirinya.
Ciri lainnya adalah takut kehilangan. Seperti orang yang bersandar ke kursi, maka akan takut sandarannya diambil. Keluarga yang bersandar hanya kepada pangkat atau kedudukan atau popularitas, maka ia tidak ingin semuanya itu diambil. Sehingga saat semuanya diambil oleh Allah SWT, keluarga ini pun terjatuh. Karena sandarannya tersebut sudah hilang. Maka tak heran, saat ini banyak kita saksikan keluarga-keluarga yang berantakan hanya karena saat itu sang suaminya diuji dengan kemiskinan atau hal-hal kesengsaraan lainnya.
***
Keluarga Sungsang
Istilah sungsang merupakan istilah yang ditujukan pada dunia kehamilan, yang berarti posisi bayi yang tidak normal dalam kehamilan saat akan dilahirkan, yakni terbalik. Sedangkan yang dimaksud dengan keluarga sungsang adalah keluarga yang orientasi berkeluarganya serba terbalik. Mereka salah dalam memandang dunia dan kehidupannya, serta nilai-nilai. Terhadap dunia ini, bukan hanya sebagai tujuan, bahkan segala-galanya diukur dengan parameter dunia. Bahkan dalam memperolehnya tidak lagi menempuh jalan-jalan yang benar, melainkan yang bathil, melanggar agama dan negara.
Dan sedikit digambarkan karakteristik mereka oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan." (QS. Yunus : 7-8).
Terhadap nilai-nilai, mereka ibarat berjalan di atas dunia ini dengan terbalik. Segalanya serba berbeda. Sebagaimana yang telah digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Al-Mulk ayat 22, "Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?"
Asep Teja Setia Somantri / Swadaya-34
KotaSantri.com © 2002-2026