Pelangi » Keluarga | Sabtu, 11 Mei 2013 pukul 20:00 WIB

Mengenal Karakter Belajar Anak

Penulis : Redaksi KSC

Anak adalah amanah yang Allah titipkan kepada pasangan suami istri. Ia yang kelak akan menjadi generasi penerus membangun keluarga dan bangsa. Pendidikan menjadi bekal utama kelangsungan hidup mereka, di pundak orangtualah kewajiban untuk mendidik dan mengarahkannya hingga kelak mereka menjadi generasi yang tangguh dan berprestasi.

Pendidikan yang akan diberikan harus sesuai dengan karakter anak, sebab tanpa mengenal karakternya, sulit untuk menentukan pola atau metode pendidikan apa yang mudah dipahami dan diterimanya. Banyak orangtua yang memberikan pendidikan tanpa mengenal dulu karakter anak, di saat anak sulit untuk mengikutinya, orangtua menggunakan hukuman sebagai bentuk disiplin. Namun sayang, hal itu bukan menyelesaikan masalah, bahkan akan lebih memperbanyak masalah, seperti memperburuk hubungan orangtua-anak.

Dr. Paul D. Hastings dari National Institut of Mental Health mengungkapkan sebuah hasil penelitiannya bahwa orangtua yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan, yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian, dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, cenderung akan menghalangi perkembangan prasosial si anak. Dengan demikian, sebagai orangtua harus berusaha untuk mengenal lebih jauh dari karakter anak, khususnya dalam belajar.

C.L. Strauss menambahkan, tindakan tersebut membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Dampak tersebut tidak akan kelihatan langsung, akan tetapi bisa diketahui setelah mereka semakin dewasa. Dampak yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Seperti halnya peribahasa mengatakan, "Air mata tak akan jatuh jauh dari pipi." Artinya bahwa sifat, tindak-tanduk, dan karakter seorang anak tidak akan jauh berbeda dari perilaku kedua orangtuanya. Bahkan Habib Muhamad al-Baqier Ibn Sholeh Mauladawilah pernah menyatakan bahwa segala perilaku anak merupakan ekspresi dari masa muda sang orangtua.

Perhatikan bagaimana sebenarnya Islam menuntun umatnya untuk selalu berbuat baik. Hingga masalah perilakupun diatur untuk membentuk karakter keturunan seseorang. Karena sesungguhnya seluruh tindak-tanduk kita akan diekspresikan pada tindak-tanduk keturunan kita. Dari sini pula Islam menginformasikan bahwa berapapun usia kita, apabila kita menjalankan perilaku yang baik dan menghindarkan diri dari perbuatan tercela, maka bukan hanya kita yang akan memetik manfaat, tetapi anak juga akan merasakannya.

***

Karakteristik Belajar Anak

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya cerdas. Hanya saja, banyak orangtua kurang memahami faktor-faktor yang mendorong kecerdasan anak, salah satunya karakteristik belajar anak. Dra. Geraldine K. Wanei , M.Psi. dalam sebuah seminar anak mengungkapkan, "kecerdasan anak itu pada dasarnya bisa dioptimalkan selama belajar anak sesuai karakternya."

Selain itu, ia juga mengungkapkan dalam seminarnya, bahwa ada tiga karakteristik belajar anak. Pertama, tipe Visual. Anak-anak dengan tipe belajar ini terlihat tekun, teliti, detail, lebih suka membaca daripada dibacakan, suka mencorat-coret di kertas yang sedang mereka pelajari, tapi amat mudah lupa pada pesan verbal.

Kedua, tipe auditorial. Anak bertipe belajar auditorial lebih mudah mengingat apa yang didengar, menghapal dengan membaca bersuara, bicara dengan nada terpola, dan suka berdiskusi. Ketiga, tipe kinestetik. Anak dengan tipe ini suka mendekati lawan bicara dengan gerakan fisik, semisal menggunakan jari dan tangan saat belajar, selain tak dapat lama duduk dalam belajar.

Untuk mengoptimalkan kecerdasan anak, Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si. menambahkan, pentingnya komunikasi efektif anak dan orangtua. Komunikasi efektif dapat tercapai apabila orangtua menggunakan bahasa yang sederhana, kalimat pendek-pendek, tempo bicara lambat, bahasa lisan yang sesuai dengan bahasa tubuh, serta yang paling penting adalah ketulusan saat bicara. Hal ini senada dengan konsep komunikasi yang tersurat dalam Al-Qur'an, yakni Kaulan Karima, berbicara dengan mulia, lemah lembut, dan penuh ketulusan.

Yakinilah bahwa setiap manusia yang lahir memiliki potensi yang sama. Meski dalam kenyataannya ada anak yang cerdas dan bodoh itu semua tergantung pada pola pendidikan yang diberikan oleh orangtuanya. Sebab itu, sebagai orangtua yang baik dan mengharapkan anaknya menjadi orang yang cerdas, tangguh, dan berprestasi, senantiasa harus bisa memilih dan memilah pendidikan seperti apa yang cocok buat anaknya. Jika ia tidak mengetahui, maka tanyakanlah pada orang yang bisa mengarahkan. Bukankah Allah juga memerintahkan dalam kitabnya, "Tanyakanlah kepada yang tahu jika kamu tidak mengetahui hal tersebut."?

Dengan demikian, para orangtua senantiasa berhati-hati dengan berbagai iklan layanan pendidikan. Jangan asal memilih lembaga atau institusi pendidikan buat anak-anak kita. Sebab belum tentu dapat membantu dan mengarahkan anak-anak kita agar optimal kecerdasannya. Pilih serta pilahlah pola pendidikan yang diberikan kepada anak secara sistematis hingga kelak memberikan kenyamanan bagi anak dalam belajarnya.

Wallahu a'lam bishshawab.

Ummu Fani Wardani / Swadaya-35

KotaSantri.com © 2002-2026