Pelangi » Keluarga | Sabtu, 17 November 2012 pukul 10:00 WIB

Mengenalkan Uang pada Anak

Penulis : Redaksi KSC

Tidak ada salahnya anda menyisihkan waktu untuk mengenalkan nilai uang pada si kecil. Kegiatan ini merupakan hal yang baru dan luar biasa artinya bagi anak, dan manfaatnya pun tidak hanya dapat dirasakan oleh anak, tapi juga oleh orangtuanya.

Tujuan dari kegiatan ini antara lain adalah :

1. Anak tahu arti uang. Selain mengetahui bahwa uang adalah alat untuk menukar barang atau untuk urusan jual beli, anak pun diharapkan tahu makna yang lebih tinggi lagi dari uang, misalnya sebagai alat untuk kegiatan sosial, bersedekah, menolong sesama, dan lain sebagainya.

2. Anak tahu darimana datangnya uang dan bagaimana cara mendapatkannya. Alangkah bijaknya orangtua yang menjelaskan pada anak darimana dan bagaimana cara mendapatkan uang. Anak tidak hanya sebatas tahu bahwa ia bisa mendapatkan uang dari orangtuanya saja, dari dompet ibu atau ayah. Anak tahu sedikitnya gambaran bagaimana orangtuanya mendapatkan uang untuk kebutuhannya. Diharapkan anak lebih menghargai jerih payah orangtuanya dengan cara menghargai nilai uang itu sendiri, berhemat.

3. Anak tahu cara bijak menggunakan uang. Dari kepolosan anak yang dibina dan diarahkan dengan belajar menghargai jerih payah seseorang mendapatkan uang, lambat laun akan membuka fikiran anak untuk menggunakan uang sebaik mungkin. Tentu saja hal ini memerlukan pelatihan yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, tidak bisa instant.

Seorang manajer keuangan rumah tangga yang baik, orangtua, tidak hanya memberikan rasa aman dan tentram saja, tapi juga memberikan contoh atau model untuk anak-anaknya. Seorang ibu yang terbiasa defisit keuangan di akhir bulan, atau yang terbiasa boros dalam pengeluaran keuangannya akan mengalami kesulitan mendidik anaknya untuk hidup hemat. Anak dihadapkan pada contoh yang tidak mendukung bahkan bertolak belakang dengan pelajaran yang diterimanya.

Salah satu kesalahan pada orangtua juga terlalu "over protectif" terhadap anak. Mereka berfikir bahwa anak tidak perlu ikut campur dalam hal keuangan, yang penting ia belajar yang rajin, segala kebutuhannya terpenuhi. Dampak dari sikap seperti itu akan terasa ketika si anak harus mandiri, dia tidak tahu bagaimana untuk memenuhi kebutuhannya tanpa disuplay oleh orang lain, harus berjuang sendiri. Lebih ekstrim lagi seandainya orangtua mengalami pailit, anak yang terbiasa terpenuhi kebutuhannya namun sekarang tidak, akhirnya anak berontak, mudah putus asa. Beberapa contoh kasus dapat kita ketahui dari berita bagaimana nekatnya seorang anak menganiaya orangtuanya gara-gara tidak terpenuhi keinginannya.

Anak-anak anda sesungguhnya berhak untuk tahu keadaan keuangan keluarganya. Ajaklah anak dalam diskusi keluarga mengenai pendapatan, kebutuhan, serta pengeluaran keuangan keluarga. Selain si anak merasa dihargai dan diakui keberadaannya dalam keluarga, dia pun akan mengerti bila suatu saat keinginannya tidak segera dipenuhi. Anak akan tahu bahwa ada hal lain yang harus didahulukan daripada keinginannya sendiri. Anak akan lebih bersungguh-sungguh belajar, karena setidaknya dia tahu bahwa tidak sedikit uang yang dikeluarkan oleh orangtuanya untuk biaya sekolahnya.

Tak kalah pentingnya si anak juga perlu mengenal apa yang disebut dengan kepuasan yang tertunda, karena menunda keinginannya untuk membeli mainan misalnya. Uangnya dialokasikan pada hal lain yang lebih perlu atau ditabungkan. Tanpa mengenalkan hal-hal demikian, anak-anak tumbuh tanpa mengembangkan kebiasaan menabung dan kurang memahami cara menggunakan uang dengan bijaksana. Padahal mereka perlu tahu bahwa tidak semua uang yang didapat itu boleh dihabiskan atau dibelanjakan.

Cara nyata yang dapat ditempuh untuk melatih anak bijaksana dalam mengelola keuangan diantaranya adalah :

1. Ajak anak belanja ke supermarket misalnya, kemudian ajak dia untuk membanding-bandingkan harga dari barang yang sejenis. Bisa juga diajak untuk membandingkan harga di tempat-tempat belanja dan menilai suatu produk. Diharapkan anak dapat mengetahui cara belanja yang lebih hemat namun kualitas tetap terjaga.

2. Anak yang lebih besar dan sudah mengenal hitung-menghitung, bisa diminta untuk melihat harga barang yang diinginkan, dan ajak dia untuk menyesuaikan dengan keuangan yang ada.

3. Memberi penjelasan yang sederhana namun cukup jelas dimengerti anak ketika kita mengambil uang di ATM (Automatic Teller Machine). Tidak semudah kita menggesek lalu keluar uang, namun anak harus tahu bahwa sebelumnya kita harus menyimpan terlebih dulu sejumlah uang di bank tiap bulannya.

4. Bagi anak yang sudah bersekolah, bisa dilatih dengan mengelola uang jajannya. Dimulai dengan uang harian dan bila kira-kira sudah bisa mengatur keuangannya, kita beri uang mingguan atau bulanan. Tentu saja orangtua harus disiplin juga, tidak dengan mudah memberi tambahan seandainya si anak lalai, sehingga uang jajannya tidak mencukupi sampai waktu yang ditentukan.

5. Membuka rekening tabungan bagi anak, agar anak terbiasa menabung dan mengenal suasana pengelolaan keuangan skala besar.

6. Melatih untuk berwirausaha bagi anak yang sudah besar. Cara ini sangat efektif, anak dikenalkan bagaimana jerih payah untuk mendapatkan uang yang secara otomatis akan membentuk sikap lebih bijaksana dalam mengelola keuangannya. Selain itu dia akan jauh lebih menghargai perjuangan orangtua yang membiayainya.

Contoh-contoh lainnya tentu masih banyak lagi yang bisa diterapkan orangtua pada anaknya, tergantung dengan kondisi masing-masing. Keberhasilan pelatihan mengelola keuangan pada anak ini tidak lepas dari istiqamah dan kreativitas orangtua mencari model-model pelatihan yang menarik bagi anak. Selamat berkarya!

Betty Yanti Sundari / Swadaya-31

KotaSantri.com © 2002-2026