
Pelangi » Keluarga | Sabtu, 17 Maret 2012 pukul 11:11 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Ada sebuah peribahasa The Child is Father of The Man atau anak adalah ayah dari lelaki. Jika dimaknai, maksud dari peribahasa itu ialah anak yang dimanjakan oleh orangtuanya. Peribahasa di atas sudah menjadi fenomena sejak zaman dahulu kala. Para orangtua umumnya bersikap memanjakan anak-anak mereka. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa anak berkedudukan seperti raja di dalam sebuah keluarga. Tidak peduli keluarga itu keluarga kaya, keluarga menengah, keluarga sederhana, bahkan keluarga miskin sekalipun.
Anak kerap dinomorsatukan secara pelayanan, dipenuhi segala kebutuhannya, bagaimanapun caranya. Nyaris setiap orangtua selalu berusaha menjawab (memenuhi) segala keinginan anak-anak mereka. Anak memang segala-galanya bagi orangtua. Kehadiran anak dijadikan mitos sebagai pembawa rezeki dan kebahagiaan dalam keluarga. Kepada anak, orangtua menaruh harapan-harapan, agar anak kelak memberikan kebanggaan dan kebahagiaan. Harapan orangtua, anak dapat hidup lebih baik dari diri mereka secara moril dan materil. Maka tak jarang orangtua yang menjadikan anak mereka aset keluarga. Orangtua yang terlalu berharap berlebihan kepada anaknya sesungguhnya telah membebani hidup anak, sebab anak akan merasa terpasung dalam menentukan sikap sesuai dengan keinginannya (niat dan bakatnya).
Atas hal itu, orangtuapun mempunyai cara-cara tersendiri dalam merawat, menjaga, dan mendidik anak-anak mereka. Demi mencapai harapan-harapan mereka, seringkali cara mendidik yang dilakukan orangtua kurang tepat. Masalah utamanya karena orangtua kurang memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai dalam mendidik putera-puterinya.
Ada tipe orangtua yang karena rasa sayangnya yang begitu besar pada sang anak, bersikap lunak dengan memperturutkan semua keinginan anak. Mereka tidak mau untuk mengatakan 'tidak' pada anak. Anak terbiasa tanpa kesulitan atau hambatan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Jika butuh sesuatu, tinggal mengatakannya pada orangtua. Anak tidak terbiasa dengan ujian.
Ada pula orangtua yang tidak memperbolehkan anak melakukan jenis pekerjaan rumah. Seperti merapikan tempat tidurnya dan membereskan mainannya. Tentu saja hal ini menjadikan anak tidak terampil karena tidak terbiasa dilatih di rumah. Padahal dengan bekerja, anak dapat mengenal rasa lelah dan menghargai waktu istirahatnya. Pekerjaan di dalam rumah merupakan ajang latihan agar mampu bekerja dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya kelak.
Amat keliru orangtua yang menganggap bahwa dengan memberikan tugas-tugas atau meminta anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga merupakan pemberian beban pada anak. Padahal mengikutsertakan anak dalam bekerja di dalam rumah merupakan suatu bentuk pengakuan yang memang dicari anak. Anak justru akan merasa diakui, dihargai, memiliki manfaat bagi orang lain.
Ada beberapa hal yang patut ditanamkan bagi anak, yaitu sikap membantu, mampu kerja sama, dermawan, suka menolong, dan bertanggung jawab. Bahkan orangtua dapat juga mendidik mental dan spiritual anak mereka, bukan hanya secara motorik. Tak ada salahnya orangtua mengajak anaknya untuk memikirkan dan memahami tentang berbagai hal, seperti perihal keluarga, tetangga, lingkungan sekitar yang terkena musibah, agama, atau kondisi bangsa dan negara. Dengan sikap seperti itu berarti orangtua telah mendidik anak untuk menjadi insan yang peka terhadap permasalahan, memiliki sikap respek terhadap diri dan lingkungannya.
Pada umumnya anak-anak bersikap manja pada orang dewasa terutama pada orangtua mereka. Namun, hendaknya sikap-sikap itu diatasi dengan mengarahkan dan melatih agar sikap tersebut tidak mendominasi dalam diri anak. Seiring pertambahan usia yang semula kanak-kanak akan tumbuh menjadi remaja, kemudian menjadi manusia dewasa yang notabene mau tidak mau harus sudah memiliki sikap tanggung jawab terhadap kehidupannya. Jika sikap manja dipertahankan hingga usia menjelang dewasa, tentu hal tersebut akan membawa dampak kurang baik.
Anak manja akan cenderung bermasalah dibandingkan dengan anak yang tidak manja atau terlatih mandiri. Anak manja kerap mempunyai sikap tidak siap menghadapi peraturan-peraturan di lingkungannya dan tidak peduli dengan tanggung jawab sosial. Misalnya di lingkungan sekolah, saat guru memberikan tugas, anak tersebut akan merasa terbebani, bahkan tidak sedikit yang menolak tugas. Hal ini terjadi karena ia tidak biasa disusahkan, tidak peka dengan lingkungannya. Ia lebih terbiasa dibebaskan dari tugas-tugas, biasa dinomorsatukan, dan biasa dibantu.
Pada akhirnya anak manja jadi cenderung untuk bersikap licik, mementingkan dirinya saja, tidak menghargai kepentingan orang lain, tidak sabar terhadap sesuatu, mudah rapuh dan putus asa, sulit untuk mandiri, dan lebih banyak menuntut hak-hak mereka. Mereka juga akan mengalami kesulitan dalam bergaul.
Menghadapi kenyataan ini, orangtua ataupun guru masih dapat mengatasinya dengan mengajak berbicara secara terbuka, memberikan contoh-contoh kehidupan, memberikan wawasan untuk bergaul di masyarakat dengan semestinya. Lalu berikan pendidikan dan pelatihan yang memadai guna membentuk sikap-sikap yang baik pada diri anak. Tidak membiarkan anak bersikap yang salah merupakan tugas utama orangtua, namun tidak cukup dengan kata-kata, melainkan dengan contoh secara langsung. Anak-anak umumnya bosan dinasehati, bosan dimarahi, bosan mendengarkan larangan-larangan. Cara yang efektif untuk mengatasinya yaitu dengan contoh nyata. Anak lebih cenderung untuk meniru yang dilihatnya dari pada yang didengarnya. Sesungguhnya niat dan sikap orangtua terhadap anak akan membentuk sifat dan sikap yang identik di dalam diri anak-anak.
Swadaya-43
KotaSantri.com © 2002-2026