Pelangi » Keluarga | Sabtu, 14 Januari 2012 pukul 12:00 WIB

Lebih Dekat, Lebih Akrab dengan Buah Hati

Penulis : Redaksi KSC

Pada setiap episode kehidupan manusia, memiliki anak adalah saat yang paling membahagiakan. Anak adalah buah hati, permata yang dikaruniakan Allah kepada makhluk yang dikehendakiNya. Namun, dalam prosesnya orangtua tidak selalu memiliki relasi, yang seharusnya senantiasa dekat dengan anak. Mungkin karena kesibukan, minimnya ilmu tentang perkembangan psikis anak, atau kultur orisinil masyarakat kita yang mendominasi keluarga.

Padahal, dalam setiap sesi pertumbuhan dan perkembangannya, sungguh sangat banyak yang dapat kita teladani dan mengambil hikmah darinya. Pun terutama sebagai rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah yang telah menitipkan amanah terindah ini. Menjadi dekat dengan anak, juga merupakan tanggungjawab orangtua dalam mengarahkannya menjadi anak yang shalih, yang bermanfaat bagi orang lain. Pastinya, lebih akrab dengan anak akan melembutkan hati, karena saat itulah kasih sayang meliputi hati kita, insya Allah.

Dalam banyak hadits, Rasulullah SAW mengajarkan secara konkrit kepada kita tentang cara memperlakukan anak-anak. Beliau tidak segan mencium dan mendekap anak-anak yang menghampirinya ketika baru pulang dari bepergian. Juga bermain bersama, selalu menyambut putri tersayang beliau, Fatimah RA dengan penuh kasih sayang, dan beragam aktivitas riil lainnya yang merupakan ekspresi kedekatan beliau dengan anak-anak. Bahkan, ketika dalam sebuah kesempatan, orang-orang dusun menanyakan apakah Rasulullah selalu mencium anak-anak, dengan arif beliau menjawab bahwa tidak mencium anak adalah indikasi dicabutnya rasa sayang dari hati manusia.

Sungguh, betapa Rasulullah SAW mengajarkan hal yang sangat bernilai bagi kita. Meski berjenis alat komunikasi diciptakan, tetap saja kedekatan secara fisik, komunikasi langsung adalah sarana terbaik bagi hubungan anak dan orangtua. Selebihnya, telepon genggam, surat elektronik, atau yang lainnya, hanyalah 'tim support' agar hubungan dengan anak lebih manis lagi.

Banyak orangtua mengira, ketika anak sudah mengerti tentang peran orangtua di luar, sibuk bekerja misalnya, maka hal ini adalah pertanda anak mengerti dan tidak menuntut kepada orangtuanya. Padahal, tidak semestinya orangtua hanya mengharapkan dimengerti anak. Orangtualah yang harusnya belajar untuk lebih dekat dengan anak. Walaupun untuk itu, orangtua harus berpikir keras, menyiasati waktu agar waktu yang terbatas bukanlah waktu sisa dari aktivitasnya diluar. Apalagi jika keduanya bekerja, perlu adanya kompromi bersama agar anak tetap terperhatikan dengan baik. Agar kedekatan dan keakraban dengan anak dapat dipelihara. Dan caranya, sepenuhnya tentu disesuaikan dengan karakteristik keluarga tersebut.

Tetapi, jika kita dapat meneladani Rasullullah SAW, tentu akan lebih baik. Kebiasaan beliau dalam memperlakukan anak-anak dapat kita tiru, seperti mencium, memeluk, membelai, menggendong, memanggilnya dengan panggilan kesayangan, mengajaknya berdiskusi, bermain bersama, bercanda, dan beragam sentuhan fisik lainnya. Niscaya, aktualisasi dari rasa sayang kita kepada anak ini, membuatnya merasa tentram dan menjadi dekat dengan orangtuanya. Kalau sudah begitu, pengaruh buruk lingkungan dan media, akan menjadi minimalis dalam dirinya. Karena anak merasa sudah mendapatkan apa yang dicarinya, dari keluarganya sendri.

Satu lagi yang harus dilakukan orangtua agar hubungan dengan anak selalu harmonis, yaitu melimpahi anak dengan do'a. Yakinlah, setiap doa tulus yang dilantunkan orangtua dalam shalat dan dalam berbagai kesempatan, akan dikabulkan Allah. Kita tentu sering mendengar kisah orang sukses yang mengubah jeritan orangtuanya yang tidak lelah mendo'akan kebaikan anaknya. Maka, jadikan setiap shalat dan saat mustajab do'a menjadi saat untuk mendo'akan putra-putri kita. Dengan begitu, sebanyak apapun pengaruh tidak baik terhadap anak, orangtua siap menghadang dengan dahsyatnya kekuatan do'a. Lagipula, bukankah anak shalih juga aset kita kelak dalam kehidupan akhirat?

Mulai saat ini, rencanakan dalam program perbaikan diri kita, untuk menjadi orangtua yang lebih dekat, lebih akrab dengan anak. Janganlah dulu berharap pada anak, tapi jadilah proaktif, selalu menjadi yang pertama untuk berupaya memberikan saat terbaik kepada anak. Agar kasih sayang dan kelembutan milik Allah senantiasa menebar di keluarga kita. Agar anak kita menjadi tentram bersama kita, orangtuanya dan akhirnya menjadi anak shalih, insya Allah.

Swadaya-0506

KotaSantri.com © 2002-2026