
Pelangi » Keluarga | Sabtu, 1 Oktober 2011 pukul 13:45 WIB
Penulis : H. Akbar
Secara naluriah, manusia diciptakan Allah secara berpasangan (QS. Ar-Rum : 21). Laki-laki diberi kecenderungan mencintai perempuan (QS. Ali Imran : 14) dan sebaliknya. Dari buah kecenderungan itu kemudian mereka memasuki gerbang perkawinan. Ikatan perkawinan akan semakin terpateri manakala mereka dikaruniai anak keturunan.
Mereka mengangankan anak-anak yang lahir itu ganteng, cantik, cerdas, lucu, menggemaskan, dan harapan-harapan lain yang akan menjadi kebanggaan. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa Al-Qur'an telah menginformasikan bahwa anak yang lahir ke dunia itu ada 4 kemungkinan, yaitu :
Pertama, anak akan menjadi musuh. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka." (QS. At-Taghabun : 14).
Anak yang ada pada tingkatan ini sudah pada tingkat membahayakan. Sudah ada organ penting yang rusak. Mentalnya perlu di-install ulang. Orangtuanya sudah terancam. Al-Qur'an meminta agar orangtua supaya berhati-hati terhadap mereka. Solusi yang terbaik tentu ‘membuang’ mereka ke lembaga pendidikan yang bisa merehabilitasi kerusakan yang dialaminya. Jika tidak ditangani secara cepat, bukan hal yang mustahil akan berpengaruh pada kehidupan keluarga yang lainnya.
Kedua, anak akan menjadi fitnah (cobaan). Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)." (QS. At-Taghabun : 15).
Jika anak ada pada tingkatan ini, orangtua perlu waspada. Jangan lengah. Ancaman terhadap orangtua berbentuk fitnah. Banyak orangtua yang sangat dihormati oleh masyarakat, namun nama baiknya dihancurkan oleh tingkah laku anaknya. Fakta di lapangan sering terjadi bahwa seorang kyai belum tentu anak keturunannya menjadi kyai. Solusi terbaik, mental anak cukup di-restart, tidak perlu di-install ulang.
Ketiga, anak akan melalaikan dari mengingat Allah. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah." (QS. Al-Munafiqun : 9).
Pada tingkatan ini anak bisa melalaikan untuk mengingat Allah. Acara televisi yang banyak disenangi anak umumnya ditayangkan sudah mendekati datangnya waktu shalat. Jika hal itu terjadi, tinggal kita yang harus pandai mencari alasan yang bisa diterima olehnya. Bentuk kekerasan apapun tidak akan menyelesaikan masalah. Ingatkan mereka dengan bijak. Jangan lupa meng-update antivirus ke dalam tubuh anak supaya tidak timbul kerusakan yang lebih parah.
Keempat, anak akan menjadi qurrata a’yun, cindur mata belahan hati. Kemungkinan keempat ini yang kita harapkan, seperti terungkap dalam untaian do'a yang tercantum dalam Al-Qur'an, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqan : 74).
Kemungkinan keempat inilah yang kita harapkan. Untuk bisa mewujudkannya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan sebilah pisau tajam yang mampu menoreh sampai ke lubuk hati yang paling tajam. Pisau tajam itu berbentuk akhlak mulia yang diwujudkan dalam bentuk contoh oleh orangtuanya. Yakinlah! Contoh merupakan bahasa yang paling mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.
KotaSantri.com © 2002-2026