
Pelangi » Keluarga | Sabtu, 15 Januari 2011 pukul 17:50 WIB
Penulis : Febi Robianti
Saya pernah membaca ada orangtua yang selalu ingin mendokumentasikan celoteh anaknya. Siapakah itu? Mbak Helvy Tiana Rosa terhadap Faiz. Mungkin jika semua orangtua begitu menghargai anak seperti halnya beliau, maka lahirlah generasi yang mampu mengembangkan pribadinya dengan maksimal.
Ini saya kutipkan beberapa kalimat dalam penggalan dialog seorang anak dengan ibunya. Anak ini anak tunggal yang kelahirannya ditunggu selama enam tahun. Perbincangan ini berlangsung ketika anak putri ini berumur lima tahun.
"Ibu."
"Ya."
"Ayang kan tidak punya kakak dan adik."
"Terus?"
"Ibu sudah tua. Ayah juga. Lihat, rambut ibu sudah banyak ubannya."
"Nanti kalau Ayang Pi SMA, ayah dan ibu pasti tambah tua. Terus meninggal."
Sang ibu terdiam mendengar kalimat tadi.
"Kita di Lampung. Jauh dari Nenek, dari Bunda. Jauh dari saudara-saudara. Ayang sama siapa?"
Ibunya hanya menunggu kalimat-kalimat ajaib yang biasa keluar dari mulut anaknya tersayang.
"Ibu. Do'akan Ayang yah. Ayang mau cepat nikah kalau sudah besar. Biar kalau ibu sudah tua, ada yang tungguin. Kalau ayah dan ibu meninggal, Ayang ada yang temenin."
Dialog yang tak dinyana itu membuat kita merasa tak mengenal arah pembicaraan kanak-kanak. Pengamatan yang sederhana melahirkan semangat luar biasa dalam diri mereka. Tak takut akan konsekuensi, seperti halnya orang dewasa. Jatuh? Menangis sebentar lalu berlari lagi. Sederhana.
Atau, SMS-nya semester lalu tentang ajakan untuk ke rumahnya.
"Kenapa yang diajak hanya teteh?"
"Yang paling Islami."
Tebaklah apa yang ada dalam pikiran si kecil.
"Teteh, kenapa mukanya seperti itu? Teteh sedih, ya?"
Hmm… Inilah yang dinamakan kecerdasan emosi. Saya yakin semua orang punya bekal dari sananya seperti ini. Kalau kemudian kita bertemu dengan orang yang susah merespon atau terkesan tidak peka, itu karena kecerdasan alaminya untuk kontak dengan orang lain dan lingkungan luar tidak tersalurkan. Dihambat. Entah dengan sengaja atau tidak.
Akhir kata, jika kita ingin melihat kedalaman makna, tataplah mata si kecil. Akan kita temukan bahasa yang jujur dan keinginan untuk menjadi lebih baik.
KotaSantri.com © 2002-2026